Semangat Belajar Anak dan Pendidikan Indonesia
![]() |
| Semangat Belajar Anak dan Pendidikan Indonesia |
Semangat merupakan kebutuhan dasar manusia dalam menjalani hidupnya. Tanpa semangat, ia akan kehilangan kekuatan untuk menjalani hidupnya. Dan sebaliknya, orang yang memiliki semangat akan mampu menggapai sesuatu diluar sepengetahuannya. Dalam artian, ada dorongan yang kuat dari dalam untuk terus menguatkan kita dalam memulai, menjalani dan sampai mampu mengevaluasi diri sendiri. Selain itu, dalam keadaan "bersemangat atau termotivasi" akan mengajarkan kita untuk tetap berfikir positif, dan ada kata bijak mengungkapkan "sikap positif adalah aset berharga dalam belajar".
Semangat belajar anak Indonesia, dari hari ke hari semakin meningkat. Hal ini didukung oleh ketersediaan media belajar baik tulisan, audio, visual dan audio visual. Namun, jika dibandingkan dengan semangat belajar siswa di negara luar, kita masih jauh ketinggalan. Salah satu contoh kita ambil negara yang dikenal akan sistem pendidikan terbaik mereka, siapa lagi kalau bukan Findlandia. Atas prestasi mereka di bidang pendidikan, banyak negara lain melakukan pembangunan dan Finlandia menjadi role model nya. Bagaimana dengan Indonesia? Sudahkah bercermin, berbenah dan insaf akan situasinya sekarang? Tidak ada salahnya meniru sesuatu yang baik. Karena melakukan sesuatu yang baik dengan menjadikan pihak lain sebagai contoh, bukan berarti kita menyontek atau menciplak. Dan, menurut saya meniru yang baik bukanlah menyontek.
Oke, kembali kita ke semangat belajar. Sekali lagi saya katakan adalah benar bahwa semangat belajarlah yang menentukan keberhasilan seorang anak dalam belajar. Tanpa semangat itu, prestasi sang anak kemungkinan besar pas-pasan, bisa pula lebih buruk. Kemudian, siapakah yang menyemangati? Yang pertama dan terutama yang memperhatikan anak adalah orangtuanya sendiri, terutama sang Ibu, bukan pula bermaksud untuk mengatakan bahwa Ayah tidak berperan dalam membimbing dan mengajari anak.
Berbicara semangat belajar, saya punya pengalaman yang tidak terlupakan dari ayah saya sendiri. Ketika menduduki bangku Sekolah Dasar, tepatnya kelas 4. Pada saat itu Ayah saya berjuang mati-matian untuk memotivasi anaknya agar semangat belajar. Ada banyak cara yang dilakukan, mulai dari memberikan reward kalau nilai bagus. Penghargaan itu, walau kecil jika dihitung dari segi materi, tapi bagi saya itu adalah sesuatu yang sangat berharga. Kerja keras bapak menjadikan saya menjadi pribadi yang terus mau belajar, membenahi diri dan tentunya mencintai ilmu.Satu hal yang menjadi titik poin penting ialah pentingnya perhargaan (reward) kepada anak, walau sekecil apapun prestasi dan begitu pula penghargaan yang diberikan.
Dalam kontek Indonesia, meski didukung oleh sarana prasarana atau fasilitas belajar yang lengkap, tetap saja kualitas pendidikan Indonesia rendah. Hal ini deperkuat oleh hasil kajian dari UNESCO tahun 2013 yang mengatakan bahwa dari peringkat kualitas pendidikan indonesia berada di peringkat yang ke-60 dari 120 negara. Salah satu alasan mendasar yang menyimpulkan rendah kualitas pendidikan Indonesia, yaitu dari minim atau rendahnya semangat belajar siswa.
Jadi, dari uraian panjang diatas yang menjadi benang merahnya adalah bagaimana upaya meningkatkan semangat belajar siswa. Untuk masalah-masalah lain yang menyangkut rendahnya mutu pendidikan Indonesia akan kita bahas di lain tulisan. Jadi, mari kita fokus menyemangati anak dalam belajar.
Dari pengalaman saya menjalani SD sampai SMA, ada beberapa hal yang menurut saya menjadi faktor mengapa semangat bersekolah atau semangat belajar anak Indonesia masih rendah, sekaligus masukan-masukan untuk memperbaikinya, yaitu:
- Faktor pertama menyangkut paradigma sekolah dan belajar.Paradigma atau pola pikir masyarakat mempengaruhi paradigma orangtua, orangtua dan guru mempengaruhi paradigma anak. Banyak dulu teman saya datang ke sekolah bukan karena ia mengerti bahwa bersekolah itu penting. Tidak berfikir bahwa belajar giat itu harus agar punya ilmu dan lain-lain. Alasan mereka bersekolah juga karena dorongan bahkan paksaan dari orangtua. Daripada di kampung, buat ulah disana-sini dan banyak alasan mengapa orangtua memaksakan anaknya bersekolah. Padahal, bisa saja mereka juga tidak mengerti bagaiman pentingnya bersekolah, pentingnya belajar, pentingnya membaca dan berbagai jenis aktifitas lainnya yang membangun karakter, kecerdasan dan emosional sang anak.
- Faktor kedua menyangkut situasi ekonomiMasih saya ingat dulu ketika akan memasuki tingkat SMA, banyak teman-teman yang tidak melanjutkan pendidikan dengan alasan ekonomi. Bahkan beberapa dari mereka diharapkan orangtuanya bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Ini biasanya terjadi ketika orangtua tidak bisa lagi bekerja, namun adik-adik si siswa tadi masih dibiayai uang sekolahnya. Pada akhirnya ada teman-teman Indonesia meskipun katanya sudah memprioritaskan pembangunan aspek pendidikan, bahkan sampai menyediakan minimal 20% APBN. Ini wajar kida dukung, didukung dalam artian anggaranya betul-betul direalisasikan ke lapangan. Banyak pihak mengindikasikan bahwa korupsi terbesar di bangsa kita yaitu di bidang pendidikan. Saya mendengar pernyataan ini dari mantan Kepala Dinas. Korupsi yang terjadi di institusi menyebabkan terjadinya "busuknya" pendidikan
- Faktor ketiga menyangkut rendahnya kualitas guruGuru sangatlah besar perannya dalam membangkitkan semangat belajar. Ada banyak siswa yang begitu bersemangat belajar karena cara, metode, sikap dan kompetensi sang guru. Namun tidak jarang pula siswa kehilangan semangat belajar karena guru yang tidak becus dalam mendidik siswanya, saking bencinya adakalanya siswa takut datang ke sekolah karena takut kepada guru? Kepada pendidik, orang yang akan membantu kita menemukan jati diri, orang yang akan membimbing kita, dan orang yang menyayangi kita, kok bisa takut? Adakalanya memang si siswa yang dasarnya tidak berniat sekolah, tapi kita juga tidak boleh menutup mata atas banyaknya guru yang tidak layak menjadi pembimbing atau pendidik anak. Saya yakin kalau dibuat survei saat ini mengenai seberapa besar rasa sayang atau rasa cinta guru kepada siswa, pasti dapat kita hitung berapa sosok yang demikian.
- Dampak negatif TeknologiTernyata kehadiran dan perkembangan teknologi dalam kehidupan manusia, juga membawa efek buruk. Salah satunya melalui Internet, Playstation, Point Blank dan jutaan nama game lainnya menjadi santapan harian anak Indonesia. Ini sangat mempengaruhi para siswa di Indonesia. Oke, kita katakan bahwa bermain itu penting. Tetapi ketika bermain tidak diimbangi dengan kegiatan yang membangun kecerdasaran, emosional dan sikap ini akan berakibat fatal terhadap diri siswa tersebut. Bermain games atau sejenisnya harus diseimbangkan dengan kegiatan belajar. Juga sekedar mengingatkan, bahwa ada banyak permainan lain yang yang berpengaruh positif terhadap kedirian anak.
Jadi, kepada kita seluruhnya mari kita perhatikan lebih intens lagi bagaiman perkembangan anak/siswa.
- Mengenai paradigma yang secara tidak langsung beranggapan bahwa "sekolah itu perlu", dalam hal ini dibutuhkan peran-peran dari berbagai tokoh, terutama dalam pendidikan yang mampu mencerahkan pikiran kuno masyarakat Indonesia
. - Peran pemerintah dalam meningkatkan situasi perekonomian menjadi PR,dan memang dari dulu sudah seperti itu, tapi biasanya tidak ada yang serius mengertjakan PR itu. Kemudian pengelolaan anggaran pendidikan kiranya perlu diawasi lebih ketat lagi. Juga, sudah saatnya lingungan-lingkungan baik pedesaan, kota berkembang, metropolitan atau dibelahan mana saja, agar kiranya perlu digagasi lingkungan yang merangsang jiwa belajar. Misalkan membuat Perpustakaan, taman baca, membuat perlombaan-perlombaan dan lain sebagainya
- Mengenai guru, mari kita sama-sama mengingat pesan dari Ki Hadjar Dewantara, yang mengatakan bahwa di depan seorang guru harus menjadi teladan, ditengah harus mempu memberi rangsangan/bisa juga menjadi teman, dan dibelakang guru harus mempu mendorong siswanya untuk lebih baik, dalam intelektual, psikomotorik dan afektif
- Bijaklah memanfaatkan perkembangan tekonologi.
Cukup sekian yang bisa saya tumpahkan kepada pembaca, semoga tulisannya bermanfaat.
Salam hangat, Salam Pembelajar dan Pejuang!
Pematangsiantar, 3 November 2016
Alfredo Pance Saragih.

0 Response to "Semangat Belajar Anak dan Pendidikan Indonesia"
Post a Comment