Antonio Gramsci Sang Revolusioner Italia
![]() |
| Antonio Gramsci Sang Revolusioner Italia |
Antonio Gramsci, Sang Revolusioner
Italia - Siapa Antonio Gramsci? Antonio Gramsci
lahir pada tanggal 22 Januari 1891, di kota Ales, pulau Sardinia. Selang enam tahun kemudian, ayah Antonio Gramsci dicopot dari posisinya sebagai pegawai dan dijebloskan di penjara karena
dituduh korupsi, sehingga Antonio Gramsci bersama ibunya harus perpindah ke kota lain
dan hidup mereka menjadi agak sulit. Selama masih anak-anak, Antonio Gramsci jatuh dan menjadi
cacat, dan seumur hidup dia kurang sehat.
Sewaktu mahasiswa di Cagliari, Antonio Gramsci menemui golongan buruh
dan kelompok sosialis untuk pertama kalinya. Tahun 1911 dia mendapatkan
beasiswa untuk belajar di Universitas Turino. Kebetulan sekali Palmiro
Togliatti, yang kelak menjadi Sekertaris Jendral Partai Komunis Italia (PCI),
mendapatkan beasiswa yang sama. Di Universitas tersebut Gramsci juga berkenalan
dengan Angelo Tasca dan sejumlah mahasiswa lainnya yang kemudian berperan besar
dalam gerakan sosialis dan komunis di Italia.
Pada tahun 1915 Gramsci mulai bergabung dalam Partai
Sosialis Italia (PSI) sekaligus menjadi wartawan. Komentar-komentarnya di koran
"Avanti" dibaca oleh masyarakat luas dan sangat berpengaruh. Dia
sering tampil berbicara di lingkar-lingkar studi para buruh dengan topik yang
beraneka-ragam seperti sastra Perancis, sejarah revolusioner dan karya Karl
Marx. Dalam Perang Dunia I, Gramsci tidak seteguh Lenin atau Trotsky dalam
melawan perang tersebut, namun pada hakekatnya orientasinya adalah untuk
mebelokkan sentimen rakyat ke arah revolusioner.
Aktivis dan intelektual muda ini sangat terkesan oleh
Revolusi Rusia tahun 1917. Seusai Perang Dunia Gramsci ikut mendirikan koran
mingguan "Ordine Nuovo" yang memainkan peranan luar biasa dalam
perjuangan kelas buruh di kota Torino. Saat itu kaum buruh sedang berjuang
secara sangat militan serta membangun dewan-dewan demokratis di pabrik-pabrik.
Gramsci beranggapan bahwa dewan-dewan itu memiliki potensi untuk menjada
lembaga revolusioner semacam "soviet-soviet" di Rusia.
Sehubungan dengan keterlibatannya dalam gerakan buruh,
Gramsci memihak minoritas komunis dalam PSI. Partai Komunis yang muncul waktu
itu merupakan pecahan dari PSI, dan Gramsci menjadi anggota Komite Pusat partai
tersebut. Selama 18 bulan (tahun 1922-23) dia merantau di Moskow. Tahun 1924
dia terpilih menjadi anggota parlemen.
Pada tanggal 8 Nopember 1926 Gramsci tertangkap dan
dipenjarakan oleh pemerintah fasis Mussolini. Jaksa menegaskan bahwa:
"Kita harus menghentikan otak ini untuk bekerja selama 20 tahun."
Sejak saat itu selama 10 tahun dia meringkuk di penjara, dengan sangat
menderita karena keadaan fisiknya yang kurang sehat. Namun bertentangan dengan
harapan si jaksa fasis itu, masa sulit ini akan menjadi kesempatan untuk
Gramsci menulis karya Marxis tentang masalah-masalah politik, sejarah dan
filsafat yang luar biasa berbobot, dan yang terbit setelah Perang Dunia II
dengan judul "Buku-buku Catatan dari Penjara" (Prison Notebooks).
Sayangnya, rumusan-rumusan dalam buku ini terkadang sulit
ditafsirkan, karena Gramsci harus memakai bahasa yang tidak langsung, bahkan
memakai kata-kata sandi yang dapat diartiakan secara berbeda-beda. Oleh karena
itu, buku tersebut pernah diinterpretasikan sebagai karya non-Leninis bahkan
anti-Leninis. Pemikiran Gramsci didistorsikan oleh kepemimpinan stalinis dari
Partai Komunis untuk membenarkan strategi parlementer mereka, dengan
argumentasi bahwa Gramsi mempunyai sebuah strategi yang beranjak dari sudut
pandangan kelas buruh dan diktatur proletariat menuju suatu orientasi lebih
"kaya" dan lebih "luas". Kemudian argumentasi yang sama
digunakan bermacam-macam partai dan kelompok reformis di seluruh dunia, yang suka
mempertentangkan Gramsci dengan Lenin. Argumentasi ini adalah salah.
Sudah pada tahun 1918 Gramsci menggambarkan para politisi
reformis sebagai "sekawan lalat yang mencari semangkok poding" dan
setahun kemudian menegaskan: "kami tetap yakin, negara sosialis tidak bisa
terwujud dalam lembaga-lembaga aparatur negara kapitalis … negara sosialis
harus merupakan suatu penciptaan baru."Ini sebabnya dia berpisah dengan Partai Sosialis dan ikut
mendirikan Partai Komunis. Meskipun dia masuk parlemen sebagai taktik, pendapat
Gramsci ini sama sekali tidak berubah seumur hidupnya.
Tulisannya terakhir sebelum masuk penjara adalah
Tesis-tesis untuk konferensi Partai Komunis di Lyons pada tahun 1926. Di sini
cukup jelas bahwa Gramsci tetap menganut jalan revolusioner, melalui
pemberontakan bersenjata kaum buruh. Dia menganalisis kekalahan kelas buruh
dalam perjuangan historis tahun 1919-20, dengan menyatakan bahwa kekalahan
tersebut terjadi karena "kaum proletariat tidak berhasil menempatkan diri
di kepala insureksi mayoritas masyarakat dalam jumlah yang besar… malah
sebaliknya kelas buruh terpengaruhi oleh kelas-kelas sosial lainnya, sehingga
kegiatannya terlumpuhkan." Tugas Partai Komunis adalah mengajak kaum buruh
untuk "insureksi melawan negara borjuis serta perjuangan untuk diktatur
proletariat".
Sudah sejak awal, Gramsci melihat proletariat sebagai
faktor kunci dalam revolusi sosialis. Itu sebabnya dia terlibat dalam
dewan-dewan pabrik di Torino pada tahun 1919-20. Fokus ini marak pula dalam
Tesis-tesis Lyons. Organisasi partai "harus dibangun berdasarkan proses
produksi, maka harus berdasarkan tempat kerja", karena partai harus mampu
memimpin gerakan massa kelas buruh, "yang disatukan secara alamiah oleh
perkembangan sistem kapitalisme sesuai dengan proses produksi." Partai itu
harus juga menyambut unsur-unsur dari golongan sosial lainnya, tetapi
"kita harus menolak, sebagai kontra-revolusioner, setiap konsep yang
membuat partai itu menjadi sebuah 'sintesis' dari pelbagai unsur yang beraneka-ragam".
Tetapi bukankah Gramsci telah mengembangkan sebuah
analisis sosial tentang masyarakat kapitalis di barat yang lebih canggih dan
halus dibandingkan teori-teori Lenin? Memang begitu. Seperti Rosa Luxemburg,
Antonio Gramsci lebih mengerti seluk-beluk dunia politik dan perjuangan sosial
di Eropa Barat, sedangkan Lenin selalu berfokus pada perkembangan-perkembangan
di Rusia, sehingga kita dapat banyak belajar dari tulisan-tulisan Gramsci.Namun
kaum Stalinisis dan reformis menjungkirbalikkan hal ini pula. Mereka memusatkan
perhatian pada sebuah kiasan yang dilakukan Gramsci antara strategi
revolusioner dan militer.
Dalam "Buku-buku Catatan dari Penjara" dia
membedakan antara dua macam perang: "perang manuver" yang melibatkan
pergerakan maju atau mundur yang cepat; dan "perang posisi", sebuah
perjuangan panjang di mana kedua belah pihak bergerak secara pelan-pelan,
seperti di dalam parit-parit perlindungan selama Perang Dunia I.
Rumusan-rumusan ini diartikan para Stalinis dan reformis sebagai berikut: pemberontakan
Oktober 1917 di Rusia adalah perang manuver, yang memang diperlukan dalam
kondisi-kondisi primitif di sana; tetapi kondisi-kondisi di Eropa Barat sudah
lebih matang dan kompleks, sehingga diperlukan sebuah strategi "perang
posisi" -- baca strategi parlementer dan perubahan gradual.
Semua ini omong kosong. Kedua strategi itu bukan
bertentangan melainkan komplementer. Di Rusia antara tahun 1905 dan 1917, kaum
Bolshevik juga melakukan "perang posisi", dan pendekatan yang sama
dianjurkan mereka bagi partai-partai Komunis muda pada tahun 1921, dalam bentuk
"front persatuan". Atau jika kita mau mengambil contoh Indonesia,
para aktivis demokrasi telah menjalankan sebuah perang posisi selama
bertahun-tahun, tetapi begitu krismon meletus dan rezim Suharto mulai
bergoyang, mereka harus melakukan intervensi-intervensi radikal, sampai
akhirnya kaum mahasiswa menduduki gedung DPR. Dan di barat sebuah "perang
posisi" juga dibutuhkan sampai terjadinya krisis revolusioner; tapi begitu
krisis itu meledak, kita harus beralih ke "perang manuver".
Rumusan-rumusan Gramsci tentang "perang posisi"
bersangkutan dengan teorinya tentang mekanisme-mekanisme kekuasaan ideologis
dalam masyarakat kapitalis. Kaum penguasa tidak hanya berkuasa melalui
alat-alat represif (polisi, tentara, pengadilan). Sebenarnya alat-alat itu
hanya bergerak dalam keadaan luar biasa, seperti kriminalitas, kerusuhan,
demonstrasi atau pemberontakan. Sedangkan seorang buruh biasanya masuk tempat
kerja saban hari, menurut undang-undang yang ada, bahkan sering menghormati
kaum penguasa … kurang-lebih tanpa paksaan langsung. Dia dipaksa oleh kebutuhan
ekonomis, tetapi juga menerima ide-ide mendasar dari tatanan sosial yang ada,
sehingga mematuhi undang-undangnya secara "sukarela".
Gramsci mengembangkan sebuah analisis yang canggih
tentang mekanisme-mekanisme "hegemonis" ini, yang memang lebih halus
dan efektif di negeri-negeri maju. Sehingga "perang posisi" bisa saja
berjalan selama bertahun-tahun. Tapi ada juga mekanisme-mekanisme hegemonis di
Indonesia dan negeri dunia ketiga lainnya; bukankah para aktivis kiri sering
mengeluh tentang "kesadaran palsu" massa rakyat Indonesia? Sehingga
di sini pula, perbedaan antara negeri-negeri maju dan dunia ketiga bukan
sesuatu yang mutlak melainkan relatif saja.
Jaksa fasis yang ingin "menghentikan otak ini untuk
bekerja selama 20 tahun" telah gagal. Pemikiran Gramsci masih hidup dan
berkembang. Namun pemikiran itu tidak boleh disalahartikan: Antonio Gramsci
bukanlah seorang reformis melainkan seorang Marxis revolusioner.

0 Response to "Antonio Gramsci Sang Revolusioner Italia"
Post a Comment