Pendidikan Harusnya Mencerdaskan


Pendidikan Harusnya Mencerdaskan
Pendidikan Yang Harus Mencerdaskan


Pendidikan Harusnya Mencerdaskan -Tulisan Erik R Prabowo di Kompas ( Sabtu, 12 September 2015) lalu, “ Negeri Di Atas Kertas”  amat menarik karena menyentuh jantung persoalan pendidikan di Indonesia. Ketika membaca opini beliau, kegelisahan saya tentang kondisi pendidikan Indonesia seakan terwakili dengan lengkap dan lugas. Ungkapan  “ Buat apa sekolah tinggi-tinggi jika selesai tak menghasilkan satu pun karya nyata yang bermanfaat bagi masyarakat” sangat penting kiranya kita diskusikan. Semua kita, terutama pemangku kebijakan pendidikan, dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anis Baswedan, Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi M. Nasir sampai ke setiap guru Indonesia kiranya harus merefleksikan ungkapan tersebut jika memang kita ingin pendidikan kita semakin maju dan penuh dengan karya.

Penulis, sebagai seorang mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan dengan  melihat kondisi kekinian, beroleh kesimpulan bahwa telah terjadi disorientasi visi atau  tujuan pendidikan kita. Mengacu pada UU No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan  Nasional pasal 3 dengan jelas mengatakan bahwa “Pendidikan nasional berfungsi  mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya  potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang  Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara  yang demokratis dan bertanggung jawab".  Kalau saya menilai peta pendidikan kita sudah jauh dari maksud kalimat pasal 3 tersebut.


Berbicara tentang tujuan pendidikan, menurut Teori Taksonomi Bloom dapat kita tinjau dari tiga ranah (domain), yaitu ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotorik. Ranah kognitif merupakan proses intelektual untuk mengetahui, memahami, menerapkan, menganalisis mensintesis sampai pada kemampuan untuk mengevaluasi. Ranah afektif berkenaan dengan kesadaran akan sesuatu, perasaan dan penilaian tentang sesuatu. Sedangkan ranah psikomotorik mengacu kepada melakukan gerakan fisik, komunikasi dan keterampilan yang terkoordinasi. Ketiga ranah tersebut diatas tidak boleh kita pisahkan, karena ketiganya saling melengkapi dan seimbang. Dalam tubuh pendidikan Indonesia rasanya ketiga ranah diatas belum dicapai dengan maksimal. Hal ini terbukti dari orientasi belajar yang kurang memperhatikan atau mendalami ranah afektif dan ranah psikomotori. Sehingga muncullah peserta didik yang minim akan inovasi nan kreatif. Malah melahirkan manusia-manusia yang gampang diprovokasi,

Saya sepakat dengan Erik R Prabowo seperti dimuat dalam opininya bahwa “karya-karya inovatif memang masih belum diminati di Indonesia. Kadang dianggap tak akan laku karena masih baru. Sebagai salah satu contoh rendahnya tingkat inovasi orang Indonesia bisa dilihat dari tren meniru skripsi orang lain, plagiat istilahnya”.  Penulis juga mengamini hal ini, karena pengalaman setelah membaca beberapa skripsi para senior yang sangat minim kualitasnya, bahkan tidak jarang skripsi tidak sesuai antara judul dengan isinya. Sungguh miris sebenarnya. Perguruan tinggi yang katanya lembaga ilmiah sudah kehilangan marwah keilmiahannya jika hal demikian yang terjadi.


Revolusi Mental Guru

Memang tugas untuk mencerdaskan orang itu tidak mudah, tetapi tugas ini adalah kewajiban pemerintah, orangtua,  guru dan tenaga pendidik lainnya. Di sisi lain, untuk melakukan revolusi mental memang tidak segampang mengatakannya, tapi tidak mustahil dapat kita capai asalkan ada kemauan.  Menurut saya, ada tiga mental yang perlu kita bangun dalam segenap insan guru atau tenaga pendidik Indonesia. Pertama, membangun dan memperkuat paradigma pengabdian. Berkarier sebagai guru harus diniatkan sebagai pemenuhan atas tujuan penciptaan, yaitu pengabdian kepada Tuhan melalui kerja kemanusiaan. Kedua, membangun mental professional, yakni bekerja dengan sekeras-kerasnya untuk menjadi yang terbaik, memberi yang terbaik sehingga berhak mendapat imbalan sebaik-baiknya juga. Ketiga, mengubah pola pikir guru tentang murid dan pembelajaran. Murid adalah manusia multipotensi yang perlu ditumbuhkan secara sehat dan melalui suasana dialogis. Tanpa ketiga mental diatas, maka tidak akan pernah tecapai tujuan pendidikan yang mencerdaskan kehidupan bangsa seperti yang sudah dimuat dalam konstitusi kita.

Sasaran Umum

Dalam artikel “Kunci Reformasi Pendidikan” (Kompas, 4/9/2012), Agus Suwignyo sejarawan pendidikan FIB UGM mengatakan bahwa pendidikan memiliki sasaran umum berupa “sikap dan kompetensi dasar yang perlu dimiliki setia warga negara di mana pun mereka berkarya”. Dicontohkan, untuk tingkat sarjana (S-1) ada delapan kemampuan dasar yang harus diajarkan yaitu kemampuan berkomunikasi, berpikir jernih dan kritis, dimensi moral, menjadi warga Negara efektif, mengerti dan toleran terhadap perbedaan, kemauan hidup dalam masyarakat yang mengglobal, minat luas atas kehidupan dan kesiapan bekerja. 

Nah, kalau kita melihat kondisi bangsa ini lulusan sarjana banyak yang belum mampu jadi komunikator dalam masyarakat, bahkan tak jarang seorang sarjana pengangguran. Berkaca pada itu, maka boleh kita tarik kesimpulan bahwa pendidikan kita, terutama perguruan tinggi belum mampu mencapai kedelapan kemampuan dasar diatas. Coba bayangkan kemampuan dasar saja kita belum berhasil, bagaimana dengan kemampuan yang lebih tinggi? Misalkan mencipta atau membuat sesuatu yang berguna bagi khalayak umum. Sungguh kita masih jauh.

Dalam pembicaraan dengan beberapa guru di sebuah SMP pada tahun 2015 lalu, tempat saya mengadakan Program Pengalaman Lapangan (PPL), sering para guru melontarkan pernyataan bahwa “siswa cenderung hanya ikut-ikutan”. Dalam hal ini menunjukkan bahwa para siswa dalam mengikuti pembelajaran hanya mengikut-ikut teman mereka. Misalkan ketika ditanya guru; apakah kamu sudah mengerti? Ada yang kurang jelas? Lihatlah, mereka semua berkata “ iya, sudah mengerti”. Tapi, lain lagi hasilnya kalau kita menguji kemampuan mereka satu persatu. Umumnya, siswa sudah terbiasa dan menjadi karakter mereka untuk mendustai kemampuan mereka. Namun sikap siswa ini tidak terlepas dari sikap guru yang sering memaksaan kehendaknya mengenai kemengertian siswa akan materi yang ia ajarkan. Jika mereka berkata “ belum mengerti”, maka sang guru akan marah.

Penyelenggaraan pendidikan kita juga makin jauh dari filosofi pendidikan sebagaimana diajarkan oleh pendiri bangsa seperti Ki Hadjar Dewantara, Tan Malaka, Kartini, Bung Karno dan bung Hatta. Pendidikan perlu dievaluasi ulang, kita perlu bercermin bahwa selama ini penyelenggaraan pendidikan kita lebih mengejar angka-angka dan memberhalakan ijazah ketimbang pengetahuan kepada rakyat banyak. Alhasil ketika orang berbicara pendidikan, rujukannya selalu sekolah formal. Melalui tulisan ini, saya mengajak kita untuk mengarahkan fokus perhatian terhadap kondisi pendidikan. Tidak harus menunggu Hardiknas baru kita berbicara refleksi pendidikan. 

Selain itu, sistem pendidikan kita, yang begitu suka  menciplak standarisasi dari Barat, lebih senang mempersaingkan siswa satu sama lain, bukannya memahami potensi kreatifitas setiap anak didik dan mengupayakan pengembanganya. Pengukuran kualitas pendidikan melalui UN misalnya, justru mendegradasi kualitas anak-anak didik kita menjadi penghafal dan tak punya kemampuan berfikir memadai. Karena pendidikan yang mereka terima seakan dipaksakan, maka tak heran kecintaan mereka terhadap “ilmu pengetahuan” sangatlah rendah.

Ki Hadjar Dewantara berpesan melalui tulisannya “Eenvooralen, maarkookallenvooreen” (satu untuk semua, dan semua untuk satu). Ungkapan tersebut menyampaikan bahwa tujuan pendidikan adalah untuk kebersamaan manusia. Sehingga sesuai juga dengan salah satu pilar pendidikan menurut UNESCO yaitu tujuan pendidikan adalah untuk kehidupan bersama (live together).  



Catatan: Tulisan ini sudah pernah saya posting di Kompasiana





                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                 


                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                

DAFTARKAN EMAILMU UNTUK DAPAT BUKU ATAU ARTIKEL GRATIS

Seorang Manusia Biasa Yang Candu Membaca, Menulis dan Berdiskusi. Berkat Candu Itu Saya Menetapkan Hati Menjadi Blogger. Nice To Meet You Guys..!

0 Response to "Pendidikan Harusnya Mencerdaskan"

GET NOTIFICATIONS