Meneguhkan Toleransi Umat Beragama
Meneguhkan Toleransi Umat Beragama
Oleh
Putra Jaya Saragih
| PPO PMKRI Cabang Pematangsiantar-Simalungun Mahasiswa Pend. Fisika FKIP UHN Pematangsiantar |
Agama memiliki
peranan penting dalam kehidupan masyarakat. Hal ini dinyatakan dalam ideologi
bangsa Indonesia Pancasila “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Sejumlah agama
di Indonesia berpengaruh secara kolektif
terhadap politik, ekonomi, dan budaya. Namun, dalam prakteknya agama sering
menjadi pemicu konflik dalam bernegara.
Secara
konstitusi, dalam UUD 1945 dinyatakan bahwa tiap-tiap penduduk diberikan
kebebasan untuk memilih dan mempraktikkan kepercayaannya dan menjamin semuanya
akan menyembah menurut agama yang dianutnya. Negara Indonesia secara resmi masih
hanya mengakui enam agama yakni Islam. Katolik, Kristen Protestan, Hindu,
Budha, dan Konghucu.
Dengan banyaknya
agama yang ada di Indonesia, konflik antar agama sering kali tidak terelakkan,
misalnya pembakaran sejumlah rumah ibadah
di Tolikara, Aceh Singkil, pemboman di Gereja Katolik Santo Yosep Medan,
kasus pengrusakan Vihara di Tanjung Balai,
Kasus Penistaan Agama dan baru-baru ini pemboman Gereja Oikumene di Samarinda.
Memang pada dasarnya konflik agama sangat sensitif, maka tak heran jika konflik
ini sering kali dimanfaatkan oleh oknum-oknum tertentu untuk kepentingan
politik.
Akhir-akhir ini
Indonesia dihebohkan dengan kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Basuki
Tjahaja Purnama (Ahok) gubernur non aktif DKI Jakarta. Disusul dengan gerakan
bela Islam II 4 November (411). Konflik
ini sangat erat kaitannya dengan kepentingan politik, dimana proses pilkada DKI
Jakarta yang sedang ramai dibicarakan seluruh penjuru Indonesia. Konflik ini
akhirnya menimbulkan berbagai spekulasi. Mulai dengan dugaan Jokowi (Presiden
RI) melindungi Ahok, Polisi yang tidak netral, dan lain sebagainya. namun semua
tuduhan itu telah terbantahkan dengan keputusan yang diambil oleh Bareskrim
Polri melalui gelar perkara terbuka yang menetapkan Ahok sebagai tersangka.
Dari sejumlah
konflik agama yang terjadi di republik tercinta ini perlu kita sikapi dengan
kritis dan hati-hati karna isu agama sangat sensitif. Jangan terus terlena
dengan konfliknya. Kita harus menganalisis konflik tersebut dari berbagai sudut
pandang. Proses analisis bisa kita mulai dengan melontarkan sejumlah pertanyaan
kritis, seperti: apa penyebab konflik tersebut? apa efek sampingnya? siapa
dalangnya? siapa yang diuntungkan? siapa yang dirugikan? posisi kita dimana?
siapa aktornya? bagaimana mengatasi konflik tersebut, peran apa yang bisa kita
berikan menyelesaikan konflik tersebut, dan lain-lain.
Menurut penulis,
kasus penistaan yang dilakukan Ahok sangat politis, dan sangat sentral.
Sehingga banyak orang yang tertarik membicarakanya, kasus ini bukan saja
menjadi bahan perbincangan bangsa Indonesia tetapi juga oleh dunia. Satu sisi Ahok
diuntungkan secara popularitas, nama Ahok akan berdengung ke seluruh dunia,
belum lagi jika Ahok berhasil membuktikan dirinya benar di pengadilan maka
elektabilitas Ahok akan semakin tinggi dan dan potensinya tinggi menjadi RI II
bahkan RI I.
Sejumlah pihak
juga tidak mau kalah, terlebih mereka pihak yang kontra mengambil peran
memanfaatkan kasus Ahok ini sebagai ajang unjuk kekuatan, menaikkan popularitas
dan lain sebagainya. masyarakat terpecah tiga, ada yang pro Ahok, kontra Ahok, dan
sebagai pengamat. Inilah menyebabkan situasi nasional menjadi gonjang ganjing.
Tetapi permasalahan sesungguhnya bukan ini, konflik agama sedang memanas ini
hanyalah panggung bagi sejumlah pihak untuk mencapai kepentingannya.
Masyarakat harus
menyikapi kasus ini dengan baik, perlu ditelusuri siapa dalangnya, dan siapa
yang diuntungkan serta siapa yang dirugikan. Saya kira yang diuntungkan hanya
segelintir penguasa kaum kapitalis, dan dirugikan adalah masyarakat Indonesia.
Konflik ini dapat memecahkan persatuan bangsa, perlambatan ekonomi, dan lain
sebagainya. Padahal kita semua warga negara memiliki tanggung jawab untuk
mempertahankan NKRI, maka kita dituntut ikut aktif dalam menyelesaikan berbagai
konflik yang muncul. Selain itu, melakukan upaya pencegahan konflik menjadi
urgen.
Selanjutnya
bagaimana cara meredam konflik agama yang sering kali diperalat untuk
kepentingan politis dan kepentingan ekonomi. Salah satu solusi ialah Menjaga toleransi umat beragama. Kita
harus memahami bahwa toleransi berbicara tentang kebebasan yang memiliki
batasan. Kita memiliki kebebasan untuk menganut agama yang kita yakini, bergaul
lintas agama, lintas suku dan lain sebagainya. Kita umat beragama harus menghormati
dan menghargai agama yang diyakini orang lain dan tidak boleh memaksakan orang
lain menganut agama kita. Kemudian, kita harus menyikapi konflik SARA dengan objektif
dan jangan mudah terprovokasi.
Selain itu, pemahaman
akan agama yang dianut, semangat kemanusiaan dan pemahaman bahwa kita bangsa
yang plural sangat penting untuk mencegah konflik Agama maupun Suku, Ras dan Antar
golongan. Saya kira ketika kita tuntas dalam hal tersebut maka tolerasi umat
beragama akan tetap terjaga. Selanjutnya tugas kita bersama adalah Meneguhkan toleransi umat beragama.
Kita sebagai
umat beragama semestinya mengedepankan “Cinta
kasih dan Cinta Perdamaian” Untuk menyelesaikan berbagai konflik Agama yang
kerap terjadi di tengah-tengah masyarakat. Dengan cinta kasih, kita sesama umat
beragama semestinya bisa saling memaafkan satu sama lain. Melalui pemahaman
ideologi bangsa Indonesia “Pancasila”
akan semakin memperteguh kesatuan dan toleransi umat beragama.
Sebagai pemangku
kebijakan, pemerintah memegang peran kunci dalam upaya meneguhkan toleransi
umat beragama. Pemerintah harus mampu membangun kepercayaan publik, sehingga
setiap keputusan politik yang diambil oleh pemerintah mendapat dukungan dari
masyarakat. Pemerintah juga harus mampu
menjalankan fungsi regulasi dengan baik. Sehingga mampu menekan praktek korupsi
dan meningkatkan perekonomian bangsa Indonesia.
Selain
pemerintah, keteladan dari tokoh-tokoh pejabat negara dan tokoh agama sangat
dibutuhkan untuk meneguhkan toleransi umat beragama. Karna masyarakat umumnya
menjadikan tokoh-tokoh tersebut menjadi panutan atau teladan umat. Indonesia
saat ini krisis tokoh pemimpin yang berintegritas bermartabat. Sangat jarang
menemukan pemimpin yang jujur dan bermartabat. Semua pemimnpin menyerukan untuk
membangun generasi muda menjadi pemimpin masa depan, anehnya justru mereka mempertontonkan
perilaku yang korup, serakah dan sifat ego. Untuk itu pemerintah memiliki PR
yang utama untuk memperbaharui sistem yang korup yang selama ini terjaga dengan
baik, pemerintah (Presiden) harus mampu menggunakan kekuatannya semaksimal
mungkin untuk membangun pemerintahan yang bersih dan terpercaya.
Kita jangan mudah
terprovokasi dengan berbagai berita atau isu yang beredar di internet, atau
media sosial lainya. Karena media-media sekarang, terutama media online sangat gampang
menyebarkan berita yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Kita
perhatikan dulu apakah itu berita hoax atau bukan?. Mari menanggapi masalah
dengan objektif, tidak gegabah dalam bertindak agar hubungan umat beragama
tetap terjaga dengan baik. Namun bukan berarti kita tidak turut dalam penyelesaian
konflik. Kita harus aplikasikan nilai-nilai pancasila dalam hidup bernegara dan
berbangsa serta memahami makna semboyan pemersatu bangsa Bhineka Tinggal Ika” berbeda-beda
tetapi tetap satu, satu bangsa, satu tanah air, “Indonesia”.
Penulis adalah Mahasiswa FKIP UHN P.Siantar dan Presidium Pengembangan Organisasi (PPO) PMKRI Cab. Pematangsiantar-Simalungun
0 Response to "Meneguhkan Toleransi Umat Beragama"
Post a Comment