PMKRI Siantar-Simalungun Mengecam Pelaku Bom Rumah Ibadah
| DPC PMKRI 2016-2017 |
Persoalan bangsa
Indonesia saat ini semakin kompleks. Di tengah kegaduhan politik pilkada DKI
Jakarta, Indonesia berduka dimana Gereja Oikumene, Sengkotek, Samarinda diteror
bom molotov yang mengakibatkan 4 orang korban luka dan esoknya salah satu
korban pun meninggal .
Menyikapi pengeboman gereja Oikumene Samarinda 13 November 2016, Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Pematangsiantar-Simalungun mengecam tindakan biadab tersebut.
Menyikapi pengeboman gereja Oikumene Samarinda 13 November 2016, Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Pematangsiantar-Simalungun mengecam tindakan biadab tersebut.
Ira Melia Purba, selaku
Presidium Gerakan Kemasyarakatan menyampaikan pernyataannya mengenai peristiwa
tidak manusiawi diatas. “Terus terang saya marah dan menangis mengikuti
informasi pemboman ini, terutama melihat adik-adik yang masih kecil menjadi
korban. Lihatlah wajah-wajah itu, apa salah mereka? Apa salah gereja Oikumene
itu? Tidak, tidak ada salah mereka.
Melainkan otak atau jiwa pelaku bom itulah yang salah. Saya berharap pihak kepolisian menindak tegas pelaku pemboman itu, silahkan diberikan hukuman yang setimpal agar menimbulkan efek jera dan menjadi pembelajaran bagi orang atau pihak yang ingin menghancurkan keutuhan bangsa ini” ungkapnya.
Melainkan otak atau jiwa pelaku bom itulah yang salah. Saya berharap pihak kepolisian menindak tegas pelaku pemboman itu, silahkan diberikan hukuman yang setimpal agar menimbulkan efek jera dan menjadi pembelajaran bagi orang atau pihak yang ingin menghancurkan keutuhan bangsa ini” ungkapnya.
Selanjutnya, Rowis JM
Sitohang selaku Ketua Presidium PMKRI Pematangsiantar menuturkan: “Peristiwa
pemboman rumah ibadah semakin sering
terjadi di Indonesia. Pada tahun 2015 ada dua peristiwa pemboman yakni
peristiwa Tolikara yang terjadi pada 17 Juli dan Aceh Singkil pada 13 Oktober.
Pada tahun 2016 ini sudah ada 2 peristiwa juga, yaitu pemboman di Gereja
Katolik Santo Yosep Medan dan semalam (13 November 2016).
Kita berharap peristiwa serupa tidak lagi terjadi untuk ke depannya. Peristiwa pemboman rumah ibadah tidak hanya berdampak terhadap gangguan keamanan dan kenyamanan dalam beribadah, tetapi juga berpotensi mengganggu keutuhan persatuan bangsa”.
Kita berharap peristiwa serupa tidak lagi terjadi untuk ke depannya. Peristiwa pemboman rumah ibadah tidak hanya berdampak terhadap gangguan keamanan dan kenyamanan dalam beribadah, tetapi juga berpotensi mengganggu keutuhan persatuan bangsa”.
Rowis menambahkan “kami,
DPC dan seluruh Anggota PMKRI Pematangsiantar-Simalungun sangat mengecam pelaku
pemboman rumah-rumah ibadah. Kemudian, meminta Badan Intelijen Negara (BIN),
Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan pihak Polri selaku pelayan
masyarakat harus bertanggungjawab atas insiden ini, mengapa sampai hal ini bisa
terjadi? Harusnya dengan adanya ketiga lembaga ini, insiden pemboman tidak
terjadi lagi di Indonesia.
Maka kami mengharapkan agar pelaku bom diusut tuntas. Kepada seluruh masyarakat Indonesia, terutama daerah Samarinda, mari jangan mudah terprovokasi untuk membawa persoalan ini ke ranah SARA. Jika kita mengaitkan insiden ini ke persoalan SARA, maka akan mengancam persatuan bangsa Indonesia” tutur Rowis.
Maka kami mengharapkan agar pelaku bom diusut tuntas. Kepada seluruh masyarakat Indonesia, terutama daerah Samarinda, mari jangan mudah terprovokasi untuk membawa persoalan ini ke ranah SARA. Jika kita mengaitkan insiden ini ke persoalan SARA, maka akan mengancam persatuan bangsa Indonesia” tutur Rowis.
0 Response to "PMKRI Siantar-Simalungun Mengecam Pelaku Bom Rumah Ibadah"
Post a Comment