Metode Penemuan Terbimbing (Proposal Bab I Saya)






A.    Latar Belakang Masalah
Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada pasal 1 mengatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Dalam penyelenggaraannya, diharapkan bahwa pendidikan dilaksanakan dengan  memberi teladan, membangun kemauan  dan mengembangkan kreatifitas peserta didik dalam proses pembelajaran.
Salah satu bidang studi penting dalam pendidikan adalah ilmu matematika. Matematika merupakan bidang studi yang perlu dipelajari karena hakikat matematika adalah pemahaman terhadap pola perubahan yang terjadi di dalam dunia nyata dan di dalam pikiran manusia serta keterkaitan di antara pola-pola tersebut secara holistik. Walaupun matematika beroperasi berdasarkan aturan-aturan (rules) yang perlu dipelajari, tetapi kegiatan belajar ditujukan lebih dari hanya dapat melakukan operasi matematika sesuai dengan aturan-aturan matematika yang diungkapkan dalam bahasa matematika.
Dalam proses pembelajaran matematika Martha (2010) mengatakan bahwa ”Salah satu masalah dalam pembelajaran matematika  adalah rendahnya kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah matematika yang dikemas dalam bentuk soal yang lebih menekankan pada pemahaman dan penguasaan konsep suatu materi tertentu.”  Hal ini berkaitan dengan pendapat Megawangi (2012) bahwa siswa lebih cenderung belajar matematika dengan cara menghafal konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang ada dalam matematika tanpa mengetahui bagaimana terciptanya konsep serta unsur yang terkandung pada sebuah materi dalam pembelajaran matematika.
         Dari hasil penelitian ketua Assosiasi Guru Matematika Indonesia (AGMI), Firman Syah (2007) menyatakan bahwa “ Prestasi matematika siswa di Indonesia masih lebih rendah dibandingkan dengan Malaysia dan Singapura yang jumlah pengajarannya setiap tahun lebih sedikit dibandingkan Indonesia.” Hasil penelitian Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS), prestasi Indonesia berada jauh di bawah kedua negara tersebut. Prestasi matematika siswa Indonesia hanya menembus skor rata-rata 441. Sementara itu, Malaysia mencapai 508 dan 605 (400 = rendah, 475 = menengah, 550 = tinggi, dan 625 = tingkat lanjut). Untuk nilai mata pelajaran IPA selama lima tahun, Indonesia menduduki angka paling rendah dengan nilai di bawah angka lima, matematika dan bahasa Inggris hanya menempati urutan kedua dan ketiga dalam hal rendahnya perolehan rata-rata nilai. 
Rendahnya hasil belajar dan kemampuan matematika siswa telah menjadi masalah nasional yang membutuhkan optimalisasi pemecahan dari berbagai pihak walaupun upaya peningkatan telah dilakukan secara optimal. Salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya hasil belajar matematika adalah terletak metode pembelajaran yang digunakan guru membuat siswa pasif. Umumnya metode yang digunakan guru adalah metode ceramah.
Istarani (2012: 5) mengatakan bahwa metode ceramah adalah sebuah metode mengajar dengan menyampaikan informasi dan pengetahuan secara lisan kepada sejumlah siswa yang pada umumnya mengikuti secara pasif. Sehingga dengan metode ceramah maka para siswa masih menjadi objek dalam pembelajaran. Sedangkan Freire (1960: xxi) mengatakan bahwa dalam proses pembelajaran,  posisi murid adalah sebagai subjek dan objek. Kemudian, dialog menjadi unsur penting dalam pembelajaran. Guru menjadi rekan murid yang melibatkan dan merangsang daya pemikiran kritis murid”.
Drost SJ (2008: 36) mengatakan bahwa dalam proses pembelajaran, diharapkan siswa terlibat sepenuhnya. Belajar bukan hanya menyerap informasi secara pasif, melainkan aktif dan terampil.  Maka seorang guru matematika diharapkan mampu menggunakan  suatu metode pembelajaran agar matematika itu disenangi oleh siswa sekaligus membantu mengembangkan kemampuan berpikir siswa dalam menyelesaikan soal matematika dan siswa dilibatkan secara aktif mental dan fisiknya dalam belajar matematika. Sehingga penulis dalam hal ini berpandangan bahwa untuk meningkatkan kemampuan dan keaktifan siswa dalam proses belajar maka perlu dilakukan pembelajaran dengan metode penemuan terbimbing.
Rostiyah N.K (2012: 51) mengatakan bahwa metode penemuan (discovery) merupakan proses mental dimana siswa mampu mengasimilasi sesuatu konsep atau prinsip. Metode belajar yang dipopulerkan oleh Bruner. Metode ini menghendaki keterlibatan aktif siswa dalam memahami konsep-konsep dan prinsip-prinsip. Sedangkan guru mendorong siswa agar memiliki pengalaman dan melakukan percobaan yang memungkinkan mereka menemukan prinsip-prinsip untuk diri mereka sendiri. Hudojo (2015) berpendapat bahwa menemukan berarti menghasilkan sesuatu untuk pertama kali dengan menunjukkan imajinasi, pikiran, atau eksperimen. Ide yang ditemukan sendiri akan lebih dipahami dan diingat oleh si penemu.
Berdasarkan uraian di atas, dapat kita simpulkan bahwa metode penemuan terbimbing (guided discovery) adalah suatu metode pembelajaran yang menghendaki siswa menemukan ide-ide dalam proses penemuan, siswa mendapat bimbingan dari guru baik berupa petunjuk secara lisan maupun petunjuk tertulis yang dituangkan dalam bentuk lembar kerja siswa.
 Dengan metode penemuan terbimbing, siswa diharapkan belajar dengan aktif berdasarkan pandangannya sendiri, sedangkan guru hanya sebagai pengawas tetapi guru bukanlah sebagai pengawas yang pasif. Siswa tersebut memerlukan bimbingan berupa petunjuk dan instruksi untuk mengembangkan kemampuannya.
Operasi Hitung Aljabar merupakan materi pelajaran matematika di kelas VIII SMP semester I. Permasalahan yang terkait dengan materi ini pada umumnya adalah siswa tidak mengerti atau memahami dan salah dalam  menerapkan konsep, fakta atau definisi yang ada pada pokok bahasan yang digunakan. Selain itu, siswa tidak mampu atau salah dalam langkah-langkah untuk menjawab masalah dalam suatu soal dan siswa tidak melakukan langkah-langkah yang seharusnya dilakukan dalam menyelesaikan suatu soal. Berdasarkan hal ini, maka dapat diduga bahwa banyak siswa yang melakukan kesalahan dalam menyelesaikan soal yang terkait dengan Operasi Hitung Bentuk Aljabar.
Kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan soal Operasi Hitung Aljabar dapat memengaruhi hasil belajar siswa pada materi ini. Dengan kata lain, terdapat hubungan antara banyaknya kesalahan yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan soal dengan hasil belajar siswa. Salah satu fakta yang dapat menunjukkan hubungan ini yaitu hasil wawancara yang telah dilakukan penulis dengan salah satu guru matematika di SMP Swasta Harapan Pematangsiantar pada tanggal 15 Mei 2016 lalu, yaitu tentang hasil belajar siswanya pada materi Operasi Hitung Bentuk Aljabar pada tahun ajaran 2015/2016, yaitu sebagai berikut.
1) Nilai rata-rata ulangan siswa hanya 60 padahal Kriteria Ketuntasan Minimalnya yaitu 68.
2) Siswa yang tuntas belajar sekitar 30% dari setiap kelasnya.
3) Rendahnya hasil belajar siswa pada materi ini karena banyak siswa yang melakukan kesalahan dalam memahami maksud soal dan langkah-langkah dalam menyelesaikan soal.
Dibawah ini  salah satu hasil test terhadap siswa SMP Swasta Harapan Pematangsiantar menunjukkan bahwa siswa masih kesulitan dalam memahami maksud soal dan langkah-langkah yang harus dilakukan siswa dalam proses pengerjaan soal.

Lembar Jawaban Siswa-Dokpri


   Gambar 1. Kesalahan Siwa dalam mengerjakan soal (Foto: Dokumen Pribadi)
Penjelasan Gambar:
Dari soal no. 1 dapat kita simpulkan bahwa siswa Salah dalam menerjemahkan soal ke dalam kalimat matematika atau model matematikanya
Soal: Tabungan Larasati di sekolah berjumlah Rp. 40.000. jika dua kali tabungan Wita ditambah Rp. 10.000 sama besar tabungan Larasati. Berapa tabungan Wita?

Jawaban siswa : Misalkan : tabungan Larasati = x tabungan Wita = y maka : x = 40.000 dan 2y = x + 10.000 Dari jawaban siswa di atas, kesalahan yang dilakukan oleh siswa yaitu pada kalimat matematika yang dibuat oleh siswa yakni 2y = x + 10.000 seharusnya kalimat matematika yang benar yakni 2y + 10.000 = x.
Pada soal no. 2 Diketahui usia ayah empat kali usia anaknya. Lima tahun kemudian usia ayah tiga kali usia anaknya. Tentukan masing-masing usia ayah dan anaknya!. Penyelesaian : Usia ayah = 4 × 5 = 20 tahun dan anak 3 × 5 = 15 tahun. pada jawaban siswa, pemahaman siswa dirasa masih kurang. Siswa tidak paham apa yang dimaksud pada soal.
Adapun jenis kesalahan yang akan dianalisis pada penelitian ini peneliti memakai pendapat yang dikemukakan oleh Rosyidi yakni sebagai berikut:
a. Kesalahan konsep, yaitu kesalahan yanng dibuat siswa dalam menggunakan konsep-konsep yang terkait dengan materi, seperti:
1.  Salah dalam memahami makna soal
2. Salah dalam menerjemahkan soal ke dalam kalimat matematika atau model matematikanya
3. Salah tentang konsep peubah yang digunakan untuk membuat model atau kalimat matematika

b. Kesalahan prinsip, yaitu kesalahan dalam menggunakan aturan-aturan atau rumus-rumus matematika, seperti:
1.  Salah dalam menggunakan aturan-aturan yang ada pada sifat operasi aljabar ataupun kesalahan pada metode substitusi
2.  Salah dalam penarikan kesimpulan dalam menentukan jawaban akhir soal
c.  Kesalahan operasi, yaitu kesalahan dalam melakukan operasi atau perhitungan, baik penjumlahan, pengurangan, perkalian, maupun pembagian
Maka atas penjabaran diatas, peneliti akan membawakan materi Operasi Hitung Aljabar untuk diteliti. Peneliti yakin bahwa dengan menggunakan metode pembelajaran penemuan terbimbing siswa akan mampu mengerjakan soal-soal pada Operasi Hitung Aljabar dengan lebih baik.
Berdasarkan uraian tersebut, maka peneliti tertarik untuk mengkaji penelitian  tentang “Perbedaan Hasil Belajar Siswa Pada Materi Operasi Hitung Bentuk  Aljabar Yang Menggunakan Metode Penemuan Terbimbing Dengan Metode Ceramah Di Kelas VIII SMP Swasta Harapan Pematangsiantar  T.A 2016/2017”
B.     Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, beberapa masalah yang dapat diidentifikasi adalah sebagai berikut:
1.      Rendahnya hasil belajar siswa Kelas VIII SMP Swasta Harapan Pematangsiantar di bidang matematika.
2.      Siswa Kelas VIII SMP Swasta Harapan Pematangsiantar cenderung belajar dengan menghafal konsep tanpa memahaminya.
3.      Metode pembelajaran matematika yang digunakan di Kelas VIII SMP Swasta Harapan Pematangsiantar membuat siswa menjadi pasif
C.     Batasan Masalah
Mengingat keterbatasan penulis, maka penelitian ini difokuskan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswa pada materi operasi hitung aljabar yang metode penemuan terbimbing dengan metode ceramah di kelas VIII SMP Swasta Harapan Pematangsiantar T.A 2016-2017
D.    Rumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah tersebut, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
1.        Bagaimana Hasil Belajar Siswa Pada Materi Operasi Hitung Bentuk  Aljabar Yang Menggunakan Metode Ceramah Di Kelas VIII SMP Swasta Harapan Pematangsiantar T.A 2016/2017?
2.      Bagaimana Hasil Belajar Siswa Pada Materi Operasi Hitung Bentuk  Aljabar Yang Menggunakan Metode Penemuan Terbimbing Di Kelas VIII SMP Swasta Harapan Pematangsiantar T.A 2016/2017?
3.      Bagaimana Perbedaan Hasil Belajar Siswa Pada Materi Operasi Hitung Bentuk  Aljabar Yang Menggunakan Metode Penemuan Terbimbing Dengan Metode Ceramah Di Kelas VIII SMP Swasta Harapan Pematangsiantar  T.A 2016/2017?



E.     Tujuan Penelitian
      Berdasarkan rumusan masalah, maka yang menjadi tujuan penelitian adalah:
1.         Untuk mengetahui Hasil Belajar Siswa Pada Materi Operasi Hitung Bentuk  Aljabar Yang Menggunakan Metode Ceramah Di Kelas VIII SMP Swasta Harapan Pematangsiantar T.A 2016/2017?
2.    Untuk mengetahui Hasil Belajar Siswa Pada Materi Operasi Hitung Bentuk  Aljabar Yang Menggunakan Metode Penemuan Terbimbing Di Kelas VIII SMP Swasta Harapan Pematangsiantar T.A 2016/2017?
3.      Untuk mengetahui Bagaimana Perbedaan Hasil Belajar Siswa Pada Materi Operasi Hitung Bentuk  Aljabar Yang Menggunakan Metode Penemuan Terbimbing Dengan Metode Ceramah Di Kelas VIII SMP Swasta Harapan Pematangsiantar T.A 2016/2017?
F.      Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian adalah:
1.      Sebagai bahan masukan bagi sekolah untuk dapat menerapkan pembelajaran metode penemuan terbimbing dalam bidang studi matematika.
2.      Sebagai bahan masukan kepada peneliti sebagai calon pendidik mengenai penggunaan metode yang menunjukkan hasil yang lebih baik dalam mengajarkan operasi hitung bentuk aljabar.
3.      Sebagai bahan masukan bagi peneliti lain yang ingin melakukan penelitian lebih lanjut.
4.      Menambah literatur tentang  metode pembelajaran, terutama metode ceramah dan metode penemuan terbimbing
G.    Anggapan Dasar
Yang menjadi anggapan dasar dari penelitian ini adalah:
1.      Siswa dengan sungguh-sungguh mengikuti kegiatan dalam proses pembelajaran
2.      Siswa serius mengerjakan tes dan tidak saling bekerja sama
3.      Data hasil tes adalah hasil yang menunjukkan kemampuan siswa yang sebenarnya.



DAFTARKAN EMAILMU UNTUK DAPAT BUKU ATAU ARTIKEL GRATIS

Seorang Manusia Biasa Yang Candu Membaca, Menulis dan Berdiskusi. Berkat Candu Itu Saya Menetapkan Hati Menjadi Blogger. Nice To Meet You Guys..!

0 Response to "Metode Penemuan Terbimbing (Proposal Bab I Saya)"

GET NOTIFICATIONS