[Pendidikan di Indonesia]-Ketika "Pendidikan Adalah Penindasan"
![]() |
| Pendidikan Yang Menindas |
Di era pra kemerdekaan,
ketika imperialisme dan kolonialisme menguasai dan menjajah bangsa Indonesia, para
pendahulu kita berusaha agar pendidikan tidak hanya dinikmati oleh bangsa
Portugis, Belanda, Jepang dan kaum bangsawan. Saat itu, pendidikan sangatlah
eksklusif, dimana yang bisa sekolah paling keluarga penjajah, pula keturunan
raja, pun anak pengusaha. Namun belakangan, dengan kesadaran pentingnya
pendidikan, pentingnya pemahaman politik, pentingnya nasionalisme dan
keberanian untuk menggapai kemerdekaan, maka untuk mencapai upaya itu, semua
masyarakat atau rakyat Indonesia harus mendapat pendidikan. Saat itu hampir
tidak bisa dipisahkan antara politik dan pendidikan. Kedua-duanya saling
mengikat kuat.
Salah satu tokoh yang
punya andil besar pendidikan kala itu adalah
Ki Hadjar Dewantara. Siapa yang tidak pernah mendengar sekolah Taman
Siswa? Hampir di seluruh Indonesia, sampai sekarang masih ada sekolah ini.
Untuk melawan para penjajah, tokoh yang dikenal dengan julukan “Bapak
Pendidikan Naional Indonesia” membangun sekolah-sekolah untuk para kaum
pribumi. Saat itu kaum pribumi tidak punya kebebasan untuk bersekolah. Jadi,
dalam kondisi itu apa yang dilakukan oleh Ki Hadjar Dewantar bersama
rekan-rekannya adalah sebuah tugas yang sangat mulia. Pada intinya, pendidikan saat itu bersifat
membebaskan. Namun, saat ini ketika kita berdiri diatas bangkai-bangkai para
pendahulu kita, beberapa dari kita malah lupa akan tanah yang ia pijak, air
yang kita minum dan udara yang ia hirup. Pendidikan saat ini masih sarat akan
penindasan.
Baca jugaSistem Pendidikan Di Indonesia (Jilid I)
Baca jugaSistem Pendidikan Di Indonesia (Jilid I)
Filsafat
Pendidikan Paulo Freire
Tujuan pendidikan yang
dimaksud Ki Hadjar Dewantara mempunyai relevasi dengan pendidikan kaum
tertindas oleh Paulo Freire. Menurut Freire sang pendidik dengan paham
konstruktivisme ini, tujuan utama dari pendidikan adalah membuka mata peserta
didik guna menyadari realitas ketertindasannya untuk kemudian bertindak
melakukan tranformasi sosial. Upaya seperti ini dalam istilah Freire
menyebutnya konsientisasi.
Konsientisasi maksudnya
pemahaman atau penyadaran mengenai keadaan nyata yang sedang dialami peserta
didik. Konsientisasi bertujuan untuk “membongkar” apa yang disebut oleh Freire
sebagai “kebudayaan diam”. Kebudayaan diam adalah suatu kondisi dimana masyarakat
dibuat tunduk dan taat sedemikian rupa oleh penguasa, sehingga masyarakat tidak
bias atau berani mempertanyakan keberadaannya dan terpaksa menerima keadaan
tertindas itu secara fatalistis.
Dalam filsafat
pendidikan Freire, pendidikan senantiasa merupakan tindakan politik baik yang
mempertahankan status quo ataupun
untuk menciptakan perubahan sosial. Mereka yang menggunakan pendidikan sebagai status quo, melakukannya di dalam kelas
dengan menggunakan konsep pendidikan bank (bank
concept of education). Sedangkan
mereka yang meyakini bahwa pendidikan adalah praksis pembebasan, menurut Freire
akan melakukan metode pendidikan yang namanya pendidikan hadap masalah (problem posing method).
Menurut saya, konsep
metode belajar mengajardengan metode concept
bank of education di Indonesia sampai hari ini masih terjadi dan
mendominasi pelaksanaanya dalam pembelajaran di sekolah-sekolah. Salah satu
pengalaman penulis ketika melakukan praktik mengajar di sekolah, setelah saya
mencoba melakukan pembelajaran dengan metode penemuan, mereka seakan terkejut
dan bingung.
“Pak
Edo, biasanya dalam belajar di kelas kami hanya mendengarkan, tulis dan
mengerjakan soal”
Mengenai metode belajar
mengajar yang sering disebut bank concept
education, disamping minimnya pemahaman tentang pendidikan pembebasan,
kualitas dan profesionalitas guru menjadi faktor yang sangat berpengaruh.
Padahal pemerntah sudah mengupayakan peningkatakan kualitas guru denggan
melakukan berbagai diklat dan sertifikasi, meningkatkan kesejahteraan,
meningkatkan pengawasan sekolah dan berbagai macamnya. Bahkan secara tidak
langsung upaya inilah yang menjerumuskan pendidikan kita kearah pragmatisma.
Pendidikan bukan lagi untuk membebaskan, tapi ia sudah menjadi sebuah
“komoditi” yang sangat laku di pasaran.
Banking
Concept of Education sangat dikecam oleh Freire. Inilah menurutnya telah menjadi alat untuk
“menindas” kesadaran akan realitas yang sejati dan menyebabkan seseorang
menjadi pasif dan menerima begitu saja keadaannya. Ada 3 asumsi yang melatarbelakangi konsep
pendidikan bank. Pertama, pemahaman yang keliru tentang manusia sebagai objek
dan bukan sebagai subjek yang bertindak.
Kedua, adanya dikotomi antara menusia dan dunia: seorang manusia
semata-mata ada di dunia dan bukan bersama dengan dunia atau manusia lainnya.
Ketiga, manusia adalah makhluk hidup yang dapat diatur dan sekuasai sepenuhnya.
Asumsi diataslah masih
menjadi realita di dalam kehidupan kita hingga saat ini, terutama dalam
sekolah. Guru berperan penuh dalam memilih dan menentukan bahan yang akan
diajarkan, sedangkan murid harus beradaptasi dengan ketentuan dan aturan sang
guru serja berperan untuk menghafalkan bahan-bahan pelajaran secara seksama.
Semakin pintar menghafal, siswa dianggap semakin berprestasi, meskipun dalam pemahaman
akan yang dihafalkan itu sangat kurang. Guru adalah sosok yang mempunyai pengetahuan
sedangkan murid tidak tahu apa-apa, dan
belajar mengajar merupakan proses penganugerahan pengetahuan dari guru kepada
murid. Hubungan guru-murid adalah hubungan hierarkikal dan bukan
dialogikal.
Sebagai lawan dari system
pendidikan bank, Freire memperkenalkan kepada kita apa yang disebutnya emetode
hadap masalah (Problem Basic Method). Metode
pendidikan ini tidak menindas dan bertujuan untuk membangkitkan kesadaran akan
realitas. Pola interaksi yang diharapkan dalam kelas yaitu hubungan dialogikal,
bukan hierarkikal. Melalui hubungan yang bersifat dialogikal, guru dan murid
sama-sama menjadi subjek dan objek.
Guru bukan penguasa
tunggal dalam proses belajar, tapi siswa juga perlu menyampaikan apa yang
mereka ketahui untuk didengar oleh guru (untuk mengetahui pemahaman siswa), di
dengar siswa lain agar muncul dialog atau diskusi dalam belajar-mengajar. Dalam
kondisi demikian, seorang siswa tidak
hanya diajar, melainkan pada saat yang sama juga mengajar. Murid bukan hanya
pendengar yang semata-mata patuh, tetapi juga rekan penyelidik yang kritis
dalam dialog bersama guru. Guru bertugas mengedepankan suatu materi dihadapan murid-muridnya untuk meminta
pertimbangan mereka tentang materi tersebut. Guru mempertimbangkan ulang materi
ketika murid-murid mengekspresikan persfektif mereka tentang materi tersebut.
Pada akhirnya, hasil
yang diharapkan, sistem pendidikan hadap masalah ini adalah “Students, as they are increasingly posed
with problem relating to themselves in the world and with the worl, will feel
increasingly challenged and obliged to response”, murid diharapakan tidak
demikian saja menerima keberadaannya, tetapi berani untuk secara kritis
mempertanyakan keberadaannya, bahkan mengubahnya. Sistem pendidikan hadap
masalah menjadikan murid tidak menjadi penghafal informasi, tetapi ketika ia
tahu dengan kritis informasi yang dimiliknya, apa kaitan informasi itu dengan
dirinya, serta bagaimana memanfaatkannya untuk melakukan suatu perubahan.

1 Response to "[Pendidikan di Indonesia]-Ketika "Pendidikan Adalah Penindasan""
Pendidikan
Post a Comment