Resensi Buku "JALAN PEMBEBASAN INDONESIA” Karya Angelo Wake Kako

[Resensi Buku]



Identitas Buku:
Judul               : Bersatu, Lawan, Menang
                           JALAN PEMBEBASAN INDONESIA
Pengarang       : Angelius Wake Kako
Penerbit           : Yayasan Harmoni Bangsa (YHB)
                           Jalan Kota Bambu Utara No. 52, Palmerah, Jakarta 11420
Tebal               : 188 halaman, 14, 8 cm  21 cm
ISBN               : 978-602-72882-0-1
Tahun              : 2015
Editor              : Kornelis Montero
Desain Sampul: Andreas Suharyanto Lowa

Angelius Wake Kako, penulis melalui buku “Bersatu, Lawan, Menang; JALAN PEMBEBASAN INDONESIA” mengungkapkan keresahan akan situasi bangsa Indonesia hari ini dan sekaligus masa depannya. Tujuh puluh tahun Indonesia merdeka, namun cita-cita pendiri bangsa belum juga terwujud. Menelusuri perjalanan bangsa, Angelo selalu mencium nafas busuk kapitalisme atau neoliberalisme yang selalu membengkakkan cita-cita bangsa menjadi kepentingan kerakusan elit penguasa. Cita-cita pendiri bangsa (Founding Father) menjadi inspirasi kelompok Cipayung (PMKRI, GMNI, GMKI, HMI dan PMII) dalam menelurkan gagasan tentang “Indonesia yang dicita-citakan”. Indonesia yang dicita-citakan adalah Indonesia yang adil dan makmur baik secara materil maupun spiritual berdasarkan Pancasila.

Dalam buku ini, penulis mencoba mengetuk kembali ruang kesadaran kita akan pentingnya memahami historisitas Indonesia sebagai sebuah negara yang memiliki cita-cita ideal yang termaktub dalam dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai landasan ideologi dan konstitusional. Cita-cita ideal yang lahir dari buah-buah pikiran para pendiri bangsa yang merupakan kaum cendekiawan dengan spirit kebangsaan yang mumpuni, menjadi kenyataan historis yang tak terbantahkan. Para pendiri bangsa pada akhirnya mampu meletakkan kepentingan nasional di atas segala kepentingan pribadi dan golongan.

Kita pasti bertanya, mengapa bangunan negara Indonesia yang didirikan dengan sejuta idealisme oleh para pendiri bangsa yang memiliki sikap negarawan tersebut perlahan-lahan retak dan mungkin segera roboh?

Kehadiran kapitalisme di bumi Indonesia, mulai dari fase kolonialisme sampai kepada era reformasi saat ini. Bangunan sosial-ekonomi Indonesia yang dijalankan setiap rezim perlahan-lahan menyimpang dari apa yang dicetuskan oleh para pendiri bangsa. Jika Soekarno hadir dengan ekonomi terpimpinnya (anti kolonialisme dan neo-imperialisme), tidak demikian dengan format ekonomi di era Soeharto. Justru di era Soeharto, keran investasi bagi asing dibuka lebar untuk masuk dan berkembang di Indonesia. Inilah awal kebangkitan pembangunan ekonomi Indonesia di atas fondasi “Kapitalis Birokrat”, yang justru menggunakan tol kekuasaan untuk meraup pundi-pundi kekayaan dengan jalan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Para “Kapitalis Birokrat” semakin memberi “andil” terhadap hancurnya tata nilai ke-Indonesiaan yang dapat ditemukan dengan melakukan praktik-praktik korup untuk mengejar kepentingan pribadi dan mengabaikan kepentingan bersama.

Akibat laten dari hancurnya tata nilai ke-Indonesia-an cukup jelas diperlihatkan dengan realitas kekinian Indonesia yang sudah keluar dari jalur rel Indonesia yang dicita-citakan. Namun, dengan kesadaran dan kecintaan terhadap tanah air, “tidak bisa tidak”, semangat perlawanan melalui berbagai resistensi gerakan dalam kacamata yang konstruktif menjadi pilihan eksistensial untuk mengembalikan jati diri kepada rel cita-cita idealnya. Kemudian, tidak dapat dipungkiri bahwa perlawanan rakyat dengan sejumlah pengorbanan baik harta benda, pemikiran, tenaga bahkan nyawa sekalipun, tidak mampu membawa perubahan berarti bagi bangsa ini. Bahkan, masyarakat semakin terpuruk dalam himpitan kemiskinan dan kemelaratan. Dalam situasi ini, rakyat Indonesia kemudian terjebak dalam berbagai konflik mengakibatkan timbulnya rasa saling curiga, munculnya gugatan identitas antar sesama anak bangsa, baik identitas daerah, agama maupun status sosial-ekonomi.

Indonesia Yang Dicita-citakan

Pada mulanya adalah cita-cita. Ia adalah mimpi bersama seluruh rakyat Indonesia. Cita-cita tersebut mendorong para pendiri bangsa (Founding Fathers) untuk mendirikan Negara Indonesia. Kemudian, jalan menuju cita-cita itu adalah Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai landasan ideologi dan konstitusional. Mohammad Yamin, Soepomo, Soekarno, Mohammad Hatta adalah pendiri dan penggagas Indonesia dalam jiwa. Semua pergulatan pemikiran yang digagaskan oleh para pendiri menunjukkan kekayaan pemikiran kaum intelektual Indonesia pada zaman itu.

Penulis, tergugah dan terpanggil untuk menemukan secara baru substansi dan nilai-nilai fundamental yang lahir dari pergulatan pemikiran para pendiri bangsa. Pertama, para pendiri bangsa dalam setiap tahap pergumulan gagasan menuju cita-cita Indonesia merdeka, sungguh-sungguh menyadari bahwa musuh bersama mereka pada saat itu adalah penjajahan dan ketertindasan. Kedua,  fakta sejarah yang membuktikan bahwa para pendiri bangsa adalah kaum intelektual, kaum cendekiawan kritis yang menukik secara mendalam.

Ketiga,  sikap negarawan para pendiri bangsa sungguh menjaga persatuan, kesediaan meninggalkan kepentingan individu, kelompok atau golongan serta mengedepankan kepentingan dan cita-cita nasional yakni mewujudkan Indonesia Merdeka. Keempat, Indonesia yang dicita-citakan dalam setiap gagasan para pendiri bangsa mencerminkan Indonesia yang bersatu, berdaulat, mandiri, adil dan makmur.

Kapitalisme Mencengkeram Indonesia

Diskursus seputar fenomena dan realita sosial dalam konteks Indonesia akan menyentuh segala aspek dan sendi kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia. Realita sosial dewasa ini sudah memasuki era neo-liberalisme sebagai konsekuensi dari perkembangan liberalisme dan kapitalisme. Pesatnya perkembangan dan pengaruh liberalisme-kapitalisme dan bahkan sekarang ini neo-liberalisme, turut mempengaruhi geo-politik dan perekonomian nasional.

Perlawanan Rakyat dan Kemenangan Elit

Kondisi keterbelakangan dan kemiskinan yang semakin menggila dari waktu ke waktu seakan menuju sebuah titik klimaks amarah rakyat. Kalangan intelektual-kritis mulai meyakini adanya kesalahan dalam sistem pengelolaan negara dalam berbagai dimensi dan tatanan hidup. Berbagai ruang diskursus, konsolidasi sampai aksi turun ke jalan baik di daerah maupun di kota-kota besar menjadi konsekuensi logis untuk menyikapi realita yang ada. Peristiwa Malari, Reformasi 1998 adalah dua bukti perlawanan yang dilakukan atas ketidakpuasan rakyat terhadap jalannya pemerintahan.

Menemukan Jalan Pulang: Bersatu, Lawan dan Menang!

Indonesia sedang “tersesat” tanpa sanggup menemukan jalan pulang pada rel cita-cita kemerdekaannya. Indonesia “tersesat” karena meskipun berganti nakhoda namun cenderung kehilangan navigasi di tengah badai kapitalisme yang terus menerjang arah langkah bangsa ini. Indonesia ibarat biduk retak yang siap patah dan tenggelam dalam muatan jutaan penumpang yang tentu diselimuti rasa panik, bingung dan tidak sedikit yang pasrah dengan keadaan. Di tengah “ketersesatan” dan ganasnya arus kapitalisme, penulis mencoba membangkitkan kembali semangat para pendiri dan menemukan jalan pulang.

 Ada tiga kunci untuk menemukan jalan Pulang Indonesia pada cita-cita idealnya.
Pertama, merajut kembali “benang kusut persatuan nasional berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.Muhammad Hatta mengingatkan, “ Jatuh bangun negara ini sangat tergantung dari bangsa ini sendiri. Makin pudar persatuan dan kepedulian, Indonesia hanyalah sekedar nama dan gambar seuantaian pulau di peta”. Maka, intinya adalah persatuan. Persatuan menjadi senjata penentu perjuangan dan kemajuan bangsa Indonesia. Persatuan haruslah tetap merupakan bagian dari jiwa dan cita rasa bangsa agar apa yang menjadi cita-cita bangsa itu sendiri dapat terwujud.

Kedua, menggagas arah baru perlawanan. Sejarah panjang perjalanan bangsa sejak masa perjuangan hingga kemerdekaannya, tidak dapat dilepaspisahkan dari konteks penjajahan sebagai musuh bersama yang sudah seharusnya disingkirkan dari bumi Indonesia. Untuk situasi saat ini, musuh terbesar kita adalah hasrat diri dan oligarki politik. Kita harus siap melawan untuk tidak terjerumus kedalam watak egoistik-konsumeristik dan terkurung dalam sistem money politic yang melelahkan dan menjenuhkan. 

Ketiga, kemenangan; kedaulatan rakyat. Di tengah kondisi bangsa dengan berbagai polemik sosial yang begitu kompleks dan massif, merupakan aral panjang yang terus menghadang setiap insan yang masih memiliki hasrat untuk mengubah wajah negeri yang semakin kritis ini. Perubahan adalah realita yang sudah harus diciptakan mulai detik ini, ketika semua elemen bangsa tergerak oleh hasrat untuk kembali melihat Indonesia sebagai warisan pusaka segenap rakyat dari Sabang sampai Merauke.    

Saatnya kita pijakan tekad dan menyatukan simpul-simpul hasrat, meretas jalan pembebasan Indonesia; bersatu, lawan dan niscaya, kemenangan akan menjadi milik kita!

Sekilas tentang Penulis Buku;
Nama: Angelius Wake Kako (dipanggil Angelo)
TTL  : Nangaba, Ende, 22 Januari 1990
Pendidikan:
1.      SD Katolik Woloora
2.      SMP Negeri 1 Maumere
3.      SMA Negeri 1 Ende
4.      Universitas Flores, Ende
5.      Pascasarjana Kajian Strategik Ketahanan Nasional UI
Organisasi:
1.      Ketua HMPS Pendidikan Matematika Universitas Flores (2010)
2.      PRESMA Universitas Flores (2011-2012)
3.      Ketua Presidium PMKRI Cabang Ende (2012)
4.      PGK PP PMKRI Santo Thomas Aquinas (2013-2015)
5.      Ketua Presidium PP PMKRI Santo Thomas Aquinas (2016-2018)








DAFTARKAN EMAILMU UNTUK DAPAT BUKU ATAU ARTIKEL GRATIS

Seorang Manusia Biasa Yang Candu Membaca, Menulis dan Berdiskusi. Berkat Candu Itu Saya Menetapkan Hati Menjadi Blogger. Nice To Meet You Guys..!

0 Response to "Resensi Buku "JALAN PEMBEBASAN INDONESIA” Karya Angelo Wake Kako"

GET NOTIFICATIONS