Pidato Politik Ketua Presidium PMKRI Cabang Pematangsiantar-Simalungun Santo Fransiskus dari Assisi Periode 2015-2016
Pidato KP PMKRI Pematangsiantar-Simalungun Periode 2015-2016
Alasan
saya memilih thema “ Kaum Muda dan Hari Esok” adalah karena saya mau
mengingatkan kembali seberapa pentingnya peran kaum muda dalam pembentukan dan
jalannya sebuah negara. Saya juga ingin mengajak rekan-rekan muda sekalian,
terutama kaum mahasiswa untuk kembali menyadari tugas dan fungsinya sebagai
kaum intelektual di tengah-tengah masyarakat.
Berbicara
tentang sejarah pergerakan dan kemerdakaan Indonesia, tidak terlepas dari
gerakan Mahasiswa dan Pemuda Indonesia. Gerakan kebangkitan nasional yang dimulai
dengan lahirnya Budi Utomo sampai ke Reformasi Tahun 1998. Semua perubahan
umumnya dimotori oleh kaum muda, terutama mahasiswa (kaum intelektual). Pada Oktober
1928, lahirlah Sumpah Pemuda. Sumpah Pemuda menjadi ungkapan rasa persatuan
kaum muda tanpa memandang agama, suku, ras dan agama.
Ketika itu (tahun 1928) tidak ada jaminan
bahwa apa yang dilakukan oleh para Pemuda 1928 itu akan memiliki muara sejarah
yang jelas dan juga mulia. Satu-satunya jaminan adalah keyakinan. Keyakinan
bahwa kita adalah satu. Mulai dari Sabang sampai Merauke adalah satu. Kita
dipersatukan oleh nasib yang sama, yaitu sebagai bangsa yang sama-sama dijajah.
Sekarang kita tahu muara dan arti keyakinan itu, karena kita bebas merdeka dan
berdaulat di bumi Nusantara yang dihuni lebih dari ratusan juta manusia
Indonesia.
Kemudian pada tahun 1945, kaum muda semakin
menunjukkan keberanian mutlak untuk tidak hanya menerima dan menunggu pemberian
orang lain yang mengenai nasib kita, hal ini dibuktikan oleh keberanian
tokoh-tokoh muda ketika itu misalnya tokoh Sukarni yang mendesak Sukarno agar
segera memproklamirkan kemerdekaan. Bisa kita bayangkan apabila kaum muda tidak
mendesak Sukarno-Hatta untuk segera memproklamirkan kemerdekaan, mungkin sampai
hari ini Indonesia belum merdeka menjadi sebuah negara yang berdaulat.
Selain
Indonesia, sejarah dunia juga membuktikan bahwa setiap pergerakan perubahan
selalu dipelopori oleh kaum muda. Revolusi Perancis membuktikan keberanian kaum
muda untuk menentang ketidakadilan. Situasi ketidakadilan yang mewarnai Perancis abad
ke-18 itu mengundang reaksi dari tokoh-tokoh pemikir. Kaum muda menghendaki
terjadinya perubahan dan perbaikan sistem pemerintahan Perancis dari monarki
absolut menjadi monarki konstitusional. Artinya pemerintah kerajaan yang
kekuasaannya dibatasi oleh undang-undang dasar. Montesqi, JJ.Rousseau dan
Voltaire, pemikiran ketiga tokoh inilah yang menjadi sumber inspirasi cikal
bakal revolusi perancis. Yang pada ujungnya yang menjadi cita-cita semboyan liberte (kebebasan), egalite (persamaan), dan fraternite (persaudaran).
Amerika Serikat juga membuktikan
keberanian pemudanya untuk melakukan perubahan. Seiring dengan meruncingnya
konflik antara koloni dengan Inggris, mulai
berkembang suatu kesadaran baru terutama pada kaum muda Amerika bahwa
Amerika harus memisahkan diri dari Inggris dan menjadi bangsa yang merdeka.
Tokoh yang dianggap sebagai pembawa kesadaran baru itu adalah Thomas Paine,
penulis buku berjudul Common Sense
yang berisi tentang pentingnya kemerdekaan.
Dari Amerika, kita
beranjak ke Rusia. Revolusi Rusia diawali rasa tidak puas kaum muda terhadap
pemerintah otokrasi Tsar (kaisar). Rasa tidak puas itu merata hampir di semua golongan
masyarakat di kalangan petani yang haus tanah, kaum protariat industri yang
baru, kaum bawahan angkatan bersenjata, kaum terpelajar yang tertekan,
minoritas-minoritas kebangsaan dan keagamaan yang tertindas, serta sebagian
besar kaum borjuis dan kaum ningrat.
Revolusi Hongaria meletus di tangan para pemuda dan
mahasiswa yang menetang pendudukan Uni Soviet dan pemerintahan boneka. Eropa
Barat juga menyaksikan gelombang gerakan pemuda dan mahasiswa sepanjang tahun
60-an: mahasiswa Spanyol bangkit menentang diktator Jenderal Franco pada 1965.
Di
dunia Islam Asia-Afrika, para mahasiswa dan pemuda bangkit mempelopori
perlawanan terhadap penjajah di sepanjang paruh pertama abad ke-20 sampai tahun
70-an. Para pemudalah yang terlibat dalam RevolusiAljazair 1954, mengenyahkan
Perancis dari tanah itu. Mereka juga berhasil mengusir Inggris dari Mesir.
Sejak 1987 hingga sekarang, anak-anak muda bahkan yang masih bocah, telah
meletuskan gerakan intifadhah melawan penjajahan Israel di Palestina.
Bapak/Ibu,
Sudara/i sekalian, saya bukanlah pakar revolusi. Saya juga bukan pakar sejarah
dunia atau sejarah Indonesia. Tetapi saya adalah salah satu manusia yang
mencintai revolusi. Tanpa ada revolusi, saya dan Anda tidak bisa hidup lebih
layak sekarang ini. Melalui revolusi kita diajari untuk merefleksikan hidup
yang sesungguhnya. Revolusi juga mengajarkan kepada kita bahwa kita harus memiliki keberanian untuk
mengutarakan pendapat dan gagasan untuk
melawan kesewenang-wenangan, ketidakadilan dan jenis penindasan lainnya.
Tapi
saya mau sharing dengan Anda sekalian. Bahwa dari beberapa peristiwa diatas kita
dapat berkesimpulan bahwa setiap gerak perubahan, gerak pembebasan dan gerak
kemerdekaan selalu dipelopori oleh kaum muda. Sejarah dunia dan Indonesia lah yang mengajarkan bahwa kaum
muda, terutama mahasiswa sebagai kaum intelektual disebut-sebut sebagai agen
perubahan- agent of change.
Pertanyaannya sekarang adalah apakah kaum
muda (mahasiswa) sekarang sudah menjadi agen-agen perubahan di masyarakat? Kalau
iya, perubahan apa yang dilakukan pemuda/i sekarang? Kalau tidak, mengapa?
Rasa-rasanya kita sedikit ragu untuk mengiyakannya. Untuk menjawab mengapa kita
harus lihat realitas yang ada.
Kita para kaum muda Indonesia harus
mengakui bahwa secara umum kita berjalan (bernegara) tanpa konsepsi yang jelas.
Ketika pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla mengeluarkan kebijakan untuk menaikkan
harga BBM, berapa jumlah pemuda yang menyuarakan pendapatnya sebagai solusi
untuk meringankan beban masyarakat? Sangat kecil. Ketika DPR RI mengeluarkan UU
Pilkada 2014 yang ingin merampas kedaulatan rakyat, apa suara pemuda? Apa yang
dilakukan pemuda untuk menolak itu? Memang, beberapa ada yang melakukan
perlawanan, berani menyampaikan isi hatinya. Tapi, sangat kecil dibanding
jumlah kaum muda Indonesia seluruhnya.
Perlu kita ketahui, bahwa seluruh rakyat
Indonesia wajib bersyukur karena masih memiliki organisasi kemahasiswaan yang
dalam praksisnya berpihak pada kaum tertindas- option for the poor. Tahun
1960-an, Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) dalam sepak terjangnya
membuktikan keberanian untuk menyuarakan kegelisahan dan perasaan rakyat.
Kegelisahan itu disampaikan melalui Tiga Tuntutan Rakyat (Tritura) yang menyuarakan
untuk dibubarkannya PKI, Reshuffle Kabinet
dan Turunkan harga sembako. Sungguh menggugah sukma ketika begitu dekatnya
mahasiswa dengan rakyat, bahkan menyatu dengannya dalam hal perjuangan melawan
ketidakadilan.
Namun, melihat kondisi kekinian, kesatuan
mahasiswa rasanya sangat rapuh. Setiap organ berusaha hanya menonjolkan
organnya sendiri, ingin dikenal masyarakat dan mendapat pengakuan dari mata
publik. Bahkan sering terjadi, saling mengumbar-umbar kelemahan organ lain,
tanpa ada keinginan untuk sama-sama berjuang. Sepertinya politik devide et
impera berhasil merongrong kesatuan kita. Tidak perlu kita perdebatkan siapa
yang melakukan devide et impera terhadap kita. Tetapi yang pasti kitalah yang
mengembalikan kesatuan kita, kitalah yang harus bersatu padu memikirkan
persoalan yang terjadi di sekitar kita.
Leo
Tolstoy pernah mengatakan “Everyone
thinks of changing the world, but no one thinks of changing himself”
(“setiap orang berpikir untuk mengubah dunia, tetapi tidak seorang pun berpikir
mengubah dirinya sendiri”). Makna yang dapat kita simpulkan dari ungkapan ini
adalah bahwa setiap orang yang ingin mengubah dunia, maka terlebih dahulu ia
harus mengubah dirinya sendiri. Demikian juga kita semua yang ada di ruangan
ini, jika kita ingin mengubah lingkungan kita, kita harus mengubah diri kita
terlebih dahulu. Untuk mengubah Indonesia di hari esok, kita harus mengubah
pemuda hari ini.
Selamat Mengubah
Diri.
ALFREDO PANCE
SARAGIH
Ketua Presidium
PMKRI Cab.Pematangsiantar-Simalungun Santo Fransiskus Dari Assisi Periode
2015-2016.
0 Response to "Pidato Politik Ketua Presidium PMKRI Cabang Pematangsiantar-Simalungun Santo Fransiskus dari Assisi Periode 2015-2016"
Post a Comment