Aku, Dosen dan Kampusku






Sumber Ilustrasi: www.dakwatuna.com

Hari itu aku dan teman-teman sekelas berdesak di sebuah ruang (kuliah) yang sempit, udaranya sungguh panas menggila. Maklum saja ruangan itu belum punya pengatur suhu yang memadai. Beberapa teman terpaksa memakai buku tipisnya sebagai pengganti kipas. Memang, kami sangat tersiksa di dalamnya. Lantai ruangan itu sungguh kotor dan lusuh bagai kandang hewan peliharaan. Debu, pasir, kertas (terutama kertas tissue) dan plastik seolah-olah menjadi pemberi warna lantainya. Aku mencoba memungut disekitarku. Kemudian pandanganku beralih ke tembok ruangan itu. Aku hampir tidak bisa menjelaskan warnanya. Yang pasti warna tembok itu hampir sama dengan warna lantai yang kupijak. Lihatlah, sungguh kasihan tembok lusuh itu dipenuhi corat moret. Untuk yang satu ini aku tidak tahu pula anak-anak dari mana yang iseng kepada dinding itu. “engkau memang malang dindingku” kataku dalam hati. Maafkan aku tidak mampu mewarnaimu. Sebenarnya sudah kusiapkan orang yang bertugas untuk mewarnaimu dan aku telah membayar mereka untuk menghiasimu.  Tapi, mungkin mereka sudah buta akan warnamu dindingku.
Kupejamkan mata ini sejenak. Kupandangi teman-temanku itu, semua mereka terlihat sibuk. Ada yang sibuk menyiapkan tugas, ada yang jualan, ada yang menagih utang (mungkin uang pulsa),  ada yang tertawa, ada yang berbisik-bisik, ada yang mondar-mandir, ada yang berlawak, dan masih banyaklah tingkah mereka. Terkadang aku berdiri di depan dan memandangi mereka satu persatu. “Calon guru-guru untuk generasi di Nusantara” gumamku. Tak lupa kulempar senyum pada mereka. “Sesungguhnya aku sangat menyayangimu teman-temanku walau mungkin tak pernah kuucapkan langsung pada kalian” ucapku dalam hati. Aku ingin kita sukses bersama-sama menggapai mimpi-mimpi kita. Walau juga aku tidak pernah menanyakan mimpi kalian satu persatu.
Menjelang pukul dua, kesibukan teman-temanku mulai berkurang. Hampir semua mereka sudah duduk di tempat masing-masing.walau satu dua orang masih ada juga mondar-mandir di sekitar kami. Sebenarnya mulai setengah jam yang lalu kami sedang menunggu seseorang yang tidak kami harapkan kedatangannya (nanti aku jelaskan kenapa kami tidak mengharap kedatangannya). Dari ruangan, kami sudah mencium bau kedatangan yang kami tunggu itu. Tepat beberapa detik kemudian ia sudah muncul di pintu. Ia masuk ke ruangan. Terlihat dari matanya, ia sedang menghakimi kami tanpa kami tahu apa kami bersalah atau bukan. Tanpa menyapa, ia langsung duduk di kursi untuk dia pengajar kami. Kalau aku tidak salah, kursi itu sudah mulai rusak. Mejanya sebenarnya sama sekali tidak layak dijadikan sebagai meja dosen. Sebenarnya aku sangat marah melihat pimpinan kampus yang seolah-olah tidak peduli terhadap buruknya fasilitas yang tersedia.
Posker, yah itulah julukan yang kuberikan kepada dosen yang tidak kami harapkan kedatangannya tadi. Kedatangan dosen yang satu ini mampu menghipnotis ruangan. Tadinya suara ribut teman-teman meramaikan ruangan ini. Tapi dengan kehadirannya, semua suara itu hilang. Ruangan tiba-tiba sepi. Kupandangi wajah teman-temanku. Di raut wajah mereka aku melihat kebosanan, kebingungan dan ada rasa takut. Aku tidak tahu apakah wajahku juga menampilkan ekspresi yang sama. Biarlah teman-temanku yang menjawabnya. Yang pasti aku juga tidak betah berlama-lama di ruangan dengan dosen yang satu ini.
Selama dua setengah jam setiap minggu kami berada di ruangan itu dengan diselimuti kebosanan. Sebenarnya aku ingin berontak dengan kondisi ini. Aku ingin diperlakukan sebagaimana layaknya manusia yang punya martabat, yang memiliki hak untuk bicara, yang punya hak untuk mengajukan pendapat. Dialog. Yah, aku ingin dalam setiap pembelajaran dibangun dengan suasana diskusi dan dialog, bukanlah monolog, seperti yang tengah kami rasakan bersama di ruangan yang semakin penat ini. Perkuliahan kami itu seperti pembelajaran di jaman kolonial dulu. Kolot.  Terkadang ia memang mau menanyakan apakah kami sudah mengerti atau belum, tetapi apabila ada yang bertanya pasti ia menjawab dengan nada mengejek, malahan kita di makinya. Pernah sekali aku mengalaminya, di saat aku belum mengenal sifat khas otoriternya. Aku tidak memperoleh penjelasan apapun, malah ia memojokkanku dengan mengatakan aku orang yang bodoh sekali. Ini membuatku jera untuk aktif dalam pembelajaran yang dibimbingnya. Sungguh ia membekukan semangat belajarku di matakuliahnya. Pernah sekali aku bertanya pada seorang temanku tentang pandangannya mengenai perkuliahan yang dipimpin oleh dosen (Josker) ini. “Aku tidak mengerti apa-apa tentang mata kuliah yang diajarkannya” jawab temanku dengan nada kesal. “Inilah bukti yang menjadi potret dari rendahnya kualitas pengajar kami” pikirku. Memang, pengajar sangat menentukan semangat belajar kita.
Jam menunjukkan pukul 16.30, itu artinya mata kuliah dari sang Posker sudah berakhir. Wajah yang tadinya raut mengantuk seakan segar kembali. Aku melangkah keluar ruangan, dan pamit pulang duluan kepada teman-teman. Aku menuruni tangga yang penuh pasir dan debu. Di tangga terakhir, aku berpapasan dengan teman yang kemarin kupinjamkan sebuah buku padanya.“hai, mau pulang yah?” sapanya. “ hai. Belom kok,  mau ke kantin dulu, malas juga membusuk di kost-an” balasku. Kami sempat mengobrol beberapa menit tentang isi buku yang kupinjamkan itu. “wah, buku kamu kemarin sangat bagus. Satu minggu lagi aku balikin yah” pintanya. “oke” jawabku. Kami saling beranjak dari tempat mengobrol tadi.
Sebelum ke kantin, aku ke toilet dan lagi, di jalan aku berpapasan dengan teman yang lain. Kini aku berada persis di sekitaran Mading kampus. Sempat kuarahkan pandanganku ke kertas-kertas pengumuman yang menempel berantakan sesukanya. Setelah mengamati beberapa menit, kulanjut kuayunkan kaki menuju kamar mandi. Oh baunya sungguh tak enak. Aku hanya pura-pura tidak bernafas selama di dalamnya. Dari dulu memang saya heran melihat kampusku. Hampir tidak ada fasilitas yang layak sebagaimana layaknya dipakai sebuah kampus. Kata orang kampus itu adalah tempat berkumpul para intelektual bangsa. Nah, kampusku ini “Intelek apanya?” protesku dalam hati. Mahasiswanya? Dosennya? Pimpinannya? Fasilitasnya? Atau tidak ada sama sekali?. Akhirnya, aku ambil kesimpulan pada “tidak ada”.
Sampah, ah sampah. Kembali lagi aku harus berhadapan dengan sampah. “Apa salahnya membuang sampah pada tempatnya” tanyaku dalam hati. Ternyata setelah kuamati, tampaknya kesadaran kami tentang kebersihan masih minim. Baik dosen maupun mahasiswa. Tetapi penyumbang terbesar sampah adalah mahasiswa. Di samping kurangnya faktor kesadaran akan pentingnya kebersihan, ternyata kurangnya tempat sampah juga menjadi masalah serius. “Seharusnya pimpinan kampus menyediakan tempat sampah yang memadai dengan kondisi kampus” protesku dalam hati.


google-site-verification: googlebc1126c02098a547.html

DAFTARKAN EMAILMU UNTUK DAPAT BUKU ATAU ARTIKEL GRATIS

Seorang Manusia Biasa Yang Candu Membaca, Menulis dan Berdiskusi. Berkat Candu Itu Saya Menetapkan Hati Menjadi Blogger. Nice To Meet You Guys..!

0 Response to "Aku, Dosen dan Kampusku"

GET NOTIFICATIONS