Kepemimpinan Kaum Muda di Era Globalisasi
Oleh ALFREDO PANCE SARAGIH
Sumber Ilustrasi: www.penaaksi.com
P
|
emuda merupakan aspek penting bangsa. Pemuda merupakan
tonggak negara, pengemban amanah, menjadi garda terdepan yang diharapkan mampu
diandalkan dengan segala kemampuannya untuk meneruskan tongkat estafet
perjuangan para pahlawan. Pemuda merupakan aspek penting dalam perubahan,
berpegang atas nilai-nilai idealisme terhadap permasalahan yang berkutat
ditengah deru masyarakat dan demi kesejahteraan masyarakat. Indonesia telah
menggapai masa kemerdekaannya, hal ini tidak terlepas dari peran pemuda,
inspirator bangsa, penjaga Pancasila. Maka tidak salah jika Bung Karno berkata “berikan aku satu pemuda, maka
aku akan guncangkan dunia”.
Pendek
kata, pemuda adalah nafas zaman, tumpuan masa depan bangsa yang kaya akan
kritik, imajinasi, serta peran dalam setiap peristiwa yang terjadi di tengah
perubahan masyarakat –agent of change. Tidak bisa dipungkiri pemuda memegang
peran penting dalam hampir setiap transformasi sosial dan perjuangan meraih
cita-cita. Abad 20, dalam perspektif bangsa kita, sesungguhnya adalah sejarah
anak-anak muda.
Garis-garis pertumbuhan dan perkembangan bangsa
ditandai dengan semakin maraknya pergerakan pemuda untuk meraih kejayaan demi
harumnya nama Indonesia. Sejarah Indonesia merupakan sejarah yang patut untuk
di pertahankan dan ditingkatkan, bukan untuk dikembalikan pada posisi awal. Ini
bukan hanya tugas para generasi tua, ini bukan hanya kewajiban namun ini
merupakan hak para pemuda Indonesia baik saat berpijak di Bumi Pertiwi ataupun
berpijak di Tanah Tetangga. Perlu diperhatikan bahwa Indonesia sangat
menjunjung tinggi keadilan, keadilan terhadap hak dan kewajiban. Indonesia
memperhatikan betul setiap celah yang perlu disi dalam benak para pemuda, yakni
kebanggaan terhadap negerinya melalui cermin para pendahulunya. Pemuda tidak
buta atau tuli, jangan biarkan pula pemuda menutup mata dan telinga dengan
kondisi negeri ini. Pemuda butuh tuntunan dengan impian menjadi tuntunan
selanjutnya.
Era globalisasi peluang besar terhadap impian para
pemuda. Di era globalisasi tidak hanya pengetahuan terapan saja yang
dibutuhkan, keterampilan dan sikap pun menjadi bagian dalam syarat
keberhasilan. Namun ada kalanya era globalisasi justru mengalihkan target
pemuda. Orientasi terhadap dunia luar yang terasa begitu dekat, rentan mengikis
semangat juang untuk Indonesia, dan meningkatkan ego individual. Pemuda perlu
menanam dan ditanamkan jiwa kepemimpinan. Bertahannya suatu negara dapat
dilihat dari pertahanan warganya. Jiwa kepemimpinan yang terus dipupuk akan
membasmih sikap apatis dan sikap antisosial.
Semua orang bisa berpartisipasi dalam menciptakan
suasana kepemimpinan yang cerdas, kreatif, dan inovatif. Terlebih untuk para
pemuda Indonesia, dengan adanya dorongan membentuk suatu organisasi atau
kelompok untuk mencapai tujuan bersama yakni memberikan manfaat kepada
individu, masyarakat dan organisasi. Pemuda akan menjadi tonggak dari
sistem suatu negara dan bangsa. Apakah bangsa itu akan memiliki alur cerita
yang baik atau berakhir buruk di zona degradasi dalam permainan bangsa-bangsa
di dunia ini.
Indonesia adalah negara yang menyimpan banyak
bakat-bakat pemimpin luar biasa yang berkualitas. Setiap pemuda memiliki
potensi besar dalam mencapai proses kepemimpinan dan mencapai hakikat jiwa
kepemimpinan itu sendiri. Pemuda, khususnya mahasiswa adalah kumpulan
orang-orang terpelajar yang akan mengubah asumsi-asumsi kuno dimasyarakat
dengan cara mereka sendiri. Cara yang sesuai dengan norma, nilai, dan peraturan
dalam masyarakat.
Pemuda Harus Memimpin Perubahan
Sumpah
Pemuda 1928 ditandai oleh semangat untuk secara sadar dan cerdas
mencita-citakan satu nusa, satu bangsa, satu bahasa: Indonesia. Menuju momen 80
tahun Sumpah Pemuda, pertanyaannya, Pemuda masa kini mencita-citakan apa untuk
Indonesia? Tetapi apa pun jawabannya, jawaban itu harus mampu mendorong sebuah
kebangkitan baru, kebangkitan Indonesia abad 21 kebangkitan sesuai semangat dan
karakter zamannya.
Itu
adalah peluang kesejarahan yang langka. Peluang untuk meresultansikan dua
kekuatan utama sejarah: pemuda dan kebangkitan. Sesungguhnya, momen itulah
peluang untuk menciptakan sejarah. Ironisnya yang sering terjadi, mereka
berbicara tentang perumusan peran generasi muda untuk bangsa, tetapi
sesungguhnya yang dibicarakan hanyalah bagaimana mereka mendapat peluang dan
menggantungkan diri kepada generasi tua yang mapan. Akhirnya yang muncul adalah
kader karbitan.
Dengan
mengikuti alur sejarah “continuity and change”, maka peran kesejarahan generasi muda
sekarang harus melintasi sekaligus tiga zaman, masalalu, masa kini dan
masadepan, yakni perpaduan kesadaran historis, kesadaran realistik, dan
kesadaran futuristik, seakan membentuk segitiga utuh. Sebab, kesadaran historis
semata akan melahirkan romantisme. Hanya ada kesadaran realistik akan
melahirkan pragmatisme. Sementara, dengan kesadaran futuristik, yang lahir
adalah generasi muda pemimpi.
Generasi
muda menghadapi dua medan sekaligus. Terhadap lingkungannya, ia dituntut untuk
berperan sebagai katalisator bagi percepatan perubahan. Secara internal masih
banyak masalah, baik secara kolektif belum menyatu dalam satu gerakan
pembaharuan, maupun ia belum selesai dengan dirinya sendiri, yang secara
pribadi ia harus “menjadi” seseorang yang punya prestasi, di mana keduanya
untuk meningkatkan daya tawar generasi muda.
Tersadar ataupun tidak, setiap orang memiliki benih
jiwa kepemimpinan dalam dirinya. Akan tetapi untuk menyempurnakan yang
menjadi harta kita, jiwa kepemimpinan, perlu adanya proses pembelajaran agar
terarah dengan baik dan selanjutnya dapat mengarahkan hal lain ke arah yang
lebih baik pula. Dengan adanya pembelajaran dan pelatihan kepemimpinan tersebut
diharapkan generasi muda memiliki jiwa kepemimpinan yang cerdas, kreatif dan
inofatif. Sehingga kepemimpinan sebuah intitusi oleh pemuda memiliki dampak
yang besar terhadap pembangunan perdaban di Indonesia. Sebagai mana sebuah
ungkapan menyatakan “ Pemuda hari ini pemimpin hari esok”. Baik buruknya sebuah
negara tergantung dari sikap pemuda pada. Adanya estafet kepemimpin guna
mempertahankan, mengisi dan menghasilkan kemerdekaan Indonesia diharapkan tidak
dipandang sebelah mata sehingga membuat para pemuda memiliki semangat ekstra
untuk memperbaiki sistem peradaban bangsa Indonesia ke arah yang lebih baik.
Inilah peran pemuda, inilah harapan bangsa, dengan jiwa kepemimpinannya mampu
membawa Indonesia menjadi Indonesia yang lebih baik lagi dalam menghadapi era
globalisasi dan diera-era selanjutnya.
NB: Sebelumnya tulisan saya ini sudah dimuat di media SiantarNews.com. Selengkapnya lihat di http://siantarnews.com/opini/kepemimpinan-kaum-muda-di-era-globalisasi/

0 Response to "Kepemimpinan Kaum Muda di Era Globalisasi"
Post a Comment