Surat Terbuka Kepada Habib Riziq
Surat Terbuka Kepada Habib Rizieq
![]() |
| Surat Terbuka Kepada Habib Riziq |
Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh !
Salam Sejahtera Pak Habib Rizieq, semoga Tuhan memberkati langkah kita selalu. Semoga juga damai dan sukacita Natal menaungi hati kita semua. Perkenalkan nama saya Alfredo Pance Saragih, mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UHN Pematangsiantar. Saya menghargai setiap orang yang menghargai perbedaan, baik itu suku, agama, ras dan antar golongan. Untuk itu, surat ini bukanlah untuk mencari perselisihan, bukan untuk mempertajam perbedaan apalagi sekedar mencari pembenaran.
Sebagai umat Kristiani (Katolik), saya tersinggung atas pernyataan Bapak yang mengatakan:
" Hari Natal sebagai Hari Lahir Yesus Kristus Sebagai Anak Tuhan, saya jawab: Tuhan Tidak Beranak dan Tidak Diperanakkan. Kalau Tuhan Beranak, bidannya siapa?"
Namun ketersinggungan ini bukan menjadikan saya membenci Bapak, menjadi marah atau bermaksud mengutuk, sama sekali tidak. Justru saya percaya, saya selaku umat Kristiani harus memberikan pengertian akan kalimat yang Bapak lontarkan diatas. Walaupun saya bukan pemuka agama, bukan pula seorang teolog, tapi saya berhak menyuarakan pemahaman dan keyakinan saya.
Pertama, saya mengapresiasi Pak Rizieq karena mengetahui Natal Sebagai Hari Lahir Yesus Kristus. Ini menjadi pertanda bahwa ternyata bukan hanya umat Kristiani yang mengetahui makna Natal. Atau bahkan bisa jadi pak Rizieq lebih mengerti makna Natal. Boleh dong di share ilmunya.
Kedua, mungkin inilah menjadi inti yang ingin saya sampaikan di surat ini. Mengenai kata "Anak Tuhan". Inilah yang menjadi poin yang disoroti oleh Pak Rizieq. Ketika mengartikan "Anak" pak Rizieq menjelaskan makna "Anak Tuhan" secara harafiah.
Klarifikasi:
Yesus Sebagai Anak Allah
Yesus itu Bukan Anak Allah dalam konteks hubungan antara ayah dan anak. Allah bukannya menikah lalu kemudian memiliki seorang anak. Inilah pendefenisian yang Pak Rizieq buat sehingga memberikan maksud dan pengertian yang berbeda dari yang sebenarnya. Yesus itu Anak Allah dalam konteks Ia sebagai Allah yang menjadi manusia di bumi. Lebih lengkapnya dalam Yohanes 1:14 dikatakan bahwa "Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran". Yesus itu Anak Allah dalam konteks ia dikandung oleh Roh Kudus. Lukas 1:35 mengatakan,
“Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa
Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan
itu akan disebut kudus, Anak Allah.” Di zaman itu, kata ”anak manusia”
digunakan untuk merujuk seorang manusia. Jadi, “anak manusia” adalah manusia.
Kilas BalikPada waktu Yesus dihakimi para pemimpin Yahudi,
Imam Agung memerintahkan Yesus, "Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada
kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak" (Matius 26:63).
"Engkau telah mengatakannya," Yesus menjawabnya. "Akan tetapi,
Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di
sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit"
(Matius 26:64). Para pemimpin Yahudi merespon dengan menuduh bahwa Yesus telah
menghujat Allah (Matius 26:65-66). Kemudian, di hadapan Pontius Pilatus,
"Jawab orang-orang Yahudi itu kepadanya: 'Kami mempunyai hukum dan menurut
hukum itu Ia harus mati, sebab Ia menganggap diri-Nya sebagai Anak Allah'"
(Yohanes 19:7).
Mengapa mengklaim sebagai Anak Allah dianggap penghujatan dan
layak dihukum mati? Para pemimpin Yahudi itu mengerti apa yang dimaksud Yesus
dengan ungkapan "Anak Allah." Menjadi Anak Allah adalah sama dengan
berkhodrat sama dengan Allah. Klaim yang menyamai khodrat Allah - adalah sama
dengan menjadi Allah - dan merupakan penghujatan bagi para pemimpin Yahudi;
sehingga mereka menuntut kematian Yesus, sesuai dengan Imamat 24:15. Ibrani 1:3
mengungkapkan hal ini secara jelas, "Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan
gambar wujud Allah."
Contoh lain dapat dilihat dalam Yohanes 17:12 di mana Yudas dilukiskan sebagai ”anak kebinasaan.” Yohanes 6:71 memberitahu kita bahwa Yudas adalah anak Simon. Apa yang dimaksudkan oleh Yohanes 17:12 waktu menggambarkan Yudas sebagai ”anak kebinasaan?” Kata ”kebinasaan” merujuk pada kondisi ”kehancuran, kesia-siaan.” Yudas, secara harafiah, bukan anak dari ”kehancuran, kesia-siaan” – tetapi “kehancuran, kesia-siaan” menjadi ciri-ciri dari kehidupan Yudas. Ia menjadi manifestasi dari kebinasaan. Demikian pula Yesus dalam konteks sebagai Anak Allah. Anak dari Allah adalah Allah. Yesus itu Allah yang menyatakan diriNya (Yohanes 1:1, 14).
Atau boleh juga, karena kurang mengerti dengan banyaknya kutipan dari Alkitab, ini penjelasan mengenai Yesus Sebagai Anak Allah
(Tulisan Umat Muslim di SITUS isadanislam.com)
(Tulisan Umat Muslim di SITUS isadanislam.com)
berikut penjelasannya:
Apakah Alkitab mengajarkan bahwa Allah itu memperanakkan Isa,
dengan kata lain Isa adalah hasil hubungan biologis/seksual? Inilah pengertian
banyak orang yang belum mempelajari dan mengerti ajaran Alkitab. Sebenarnya
dalam pandangan orang Kristen dan Alkitab ajaran demikian adalah fitnah
terbesar!
Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa Allah menghampiri seorang
perempuan dan dari hubungan biologis itu si perempuan melahirkan Isa Anak
Allah. Tidak ada seorang Kristenpun yang mengajarkan ajaran ini yang begitu
merendahkan dan menghujat Allah.
Anak Allah, menurut ajaran Alkitab dan pada pandangan orang
Kristen, selalu dalam arti kiasan atau figuratif. Bukankah istilah “anak”
sering juga dipakai sebagai kiasan dalam budaya dan bahasa Indonesia? Bukankah
bila pertanyaan-pertanyaan berikut diajukan, maka jawabannya pasti akan selalu
berbunyi “TIDAK”!
Apakah kapal pernah memperanakkan anak kapal? Apakah bukit pernah memperanakkan anak bukit? Apakah kalimat pernah memperanakkan anak kalimat? Apakah tangga pernah memperanakkan anak tangga? Apakah sungai pernah memperanakkan anak sungai? Apakah kota Jakarta pernah memperanakkan anak kota Jakarta? Apakah desa pernah memperanakkan anak desa?
Di dalam Alkitab, Isa sebagai Anak Allah artinya sama dengan
Firman Allah atau Kalimat Allah. KeberadaanNya sebagai Anak Allah sama sekali
tidaklah dibatasi oleh kelahiranNya di Bethlehem dan kematianNya di Bukit
Golgota. Anak Allah itu sudah ada sebelum alam semesta diciptakan, Anak Allah
itu kekal di dalam ke-Esaan Allah Yang Maha Esa dan Maha Kuasa.
Isa Al-Masih disebut Anak Allah karena Ia dengan sempurna
menyatakan Allah kepada manusia. Ialah Kalimat Allah dan dengan sempurna
menjelaskan kehendak dan sifat Allah kepada manusia. Sebagai Anak dan Kalimat
Allah, Isa menyatakan kasih dan kesucian dan keselamatan dari Allah kepada
manusia.
Wahyu Allah dalam Alkitab terdapat dalam Ibrani 1:1-3
menerangkan kebenaran ini: “Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan
dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan
nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan
perantaraan AnakNya (Isa), yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima
segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta. Ia adalah cahaya
kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan
FirmanNya yang penuh kekuasaan”.
Alkitab menjelaskan kebenaran ini lagi dalam Injil Yohanes
1:1-2,14 demikian: “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan
Allah dan Firman (Isa) itu adalah Allah … Firman itu telah menjadi manusia, dan
diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan yang telah diberikan
kepadaNya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh dengan kasih karunia dan kebenaran”.
Besar harapan saya, dengan surat ini dapat sedikit membukakan pemikiran kita atas maksud "Anak Allah" dan semoga di kemudian hari tidak lagi muncul perselisihan hanya karena kekurangmengertian akan apa yang kita pikirkan, apa yang kita katakan apalagi yang kita lakukan.
Saya mohon maaf jika surat dalam ini ada pemikiran atau kata-kata yang kurang berkenan di hati. Saya meyakini setiap agama di bumi pasti mengedepankan cinta kasih. Jadi, mari kita wujudkan cinta kasih yang hidup dalam keadilan, kemanusiaan, persaudaraan dan perdamaian.
Pematangsiantar, 28 Desember 2016
Hormat saya,
Alfredo Pance Saragih

0 Response to "Surat Terbuka Kepada Habib Riziq"
Post a Comment