Belajar Teologi Pembebasan


Belajar Teologi Pembebasan
Belajar Teologi Pembebasan


Belajar Teologi Pembebasan - Teologi pembebasan merupakan refleksi kritis atas praksis orang beriman untuk pembebasan manusia, terutama orang miskin dari  ketidakadilan dan penindasan. Praksis ini merupakan perwujudan solidaritas yang mendapatkan inspirasi dari Injil. Praksis itu juga merupakan praksis orang miskin sendiri yang dari waktu ke waktu berjuang  untuk membebaskan mereka dari ketidakadilan dan penindasan. Maka salahlah pendapat yang mengatakan bahwa teologi pembebasan muncul dari kalangan menengah. Iman dan tindakan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan riil. Fakta adanyaketidakdilan dan penindasan diyakini sebagai hal yang bertentangan dengan iman mereka akan Yesus Kristus.

Teologi pembebasan memandang semakin pentingnya peranan orang miskin dalam membentuk suara hati kaum beriman.  Mitra dialog teologi pembebasan adalah kaum miskin yang dinjak-injak martabatnya. Karena orang miskin adalah mitra dialog teologi pembebasan, maka usaha-usaha untuk membebani mereka dengan kategori-kategori yang asing bagi mereka harus dihindari, begitu juga dengan cara bergaul yang tidak personal dengan mereka.  Jika tidak ada persahabatan dengan mereka, maka tidak akan muncul kasih, sebab kasih hanya akan muncul diantara dua pihak yang setara.Kasih ini akhirnya membawa pada suatu komitmen yang sungguh-sungguh untuk pembebasan.


Kasih yang terungkap dalam penghargaan kepada orang miskin, turut membawa penghargaan kepada kebiasaan mereka, dalam hal ini doa.  Orang-orang Amerika Latin adalah orang-orang yang tertindas tetapi sekaligus adalah pendoa. Mereka hidup tanpa melalaikan doa-doa, yang sering diremehkan oleh orang-orang yang tidak tahu hal sebenarnya sebagai doa-doa yang primitif.

Perjuangan pembebasan ada dalam konteks Kerajaan Allah yang realisasinya merupakan Anugerah Allah. Maka hidup dan perjuangan orang kristiani dalam pembebasan memiliki dimensi kontemplatif. Melalui doa-doa mereka, orang miskin mempunyai rasa yang mendalam akan Allah. Maka teologi pembebasan tidaklah cukup bergiat dalam tingkat pemikiran intelektual belaka, tetapi juga harus bergiat dalam tingkat hati.

Maka diperlukan, dan syukur berkembang  yaitu spiritualitas pembebasan. Lewat spiritualitas pembebasan inilah ditumbuhkan dan dikembangkan olah rasa akan Allah, yang akan mampu menyuburkan hidup kita dan memberi sumber kebahagiaan kita.

Sebagai refleksi kritis, teologi pembebasan pertama-tama harus mengeksplisitkan nilai-nilai iman, harapan, dan kasih yang memberi inspirasi kepada praksis orang kristiani. Teologi pembebasan juga menolak untuk sekadar melegitimasi posisi-posisi yang sudah diambil. Misalnya posisi mereka yang mungkin melupakan aspek-aspek penting kehidupan Kristiani karena terpaku pada tuntutan-tuntutan dari kegiatan politik sesat. Teologi pembebasan berusaha menunjukkan bahwa menjadi orang Kristen jauh dari kebenaran Kristiani, kalau tidak terus menerus memiliki komitmen untuk orang miskin yang merupakan anggota istimewa Kerajaan Allah.

Ada dua langkah dalam berteologi. Langkah pertama adalah iman yang dihidupi dan yang mengungkapkan diri dalam doa dan komitmen. Maka ada praksis dari iman. Langkah kedua adalah refleksi, yang berarti membuat discernment (menimbang mana yang benar dan mana yang salah) atas praksis, atas komitmen yang ada. Discernment ini dijalankan dengan mengacu pada sumber-seumber wahyu.

Tolak ukur penilaian adalah kebenaran yang diwahyukan yang diterima dengan iman dan bukan dengan praksis itu sendiri. Demikian teologi memperkuat dan meneguhkan hubungan antara arthopraxis dan orthodoxi. Kedua “ortho” ini merupakan hubungan sirkuler, karenanya tidak dibenarkan kalau hanya salah satu yang ditekankan dan yang lainnya dilupakan.

Berangkat dari praksis, teologi mencoba merumuskan suatu bahasa untuk berbicara mengenai Allah. Dalam konteks Amerika Latin, konkretnya bagaimana membahasakan Allah yang mencintai orang miskin, padahal orang miskin hidp dalam penderitaan. Bagaimana membahasakan Yesus yang bangkit untuk orang yang menderita kemiskinan yang akhirnya berarti kematian. Juga penting diingat sejarah orang-orang Amerika Latin yang tertindas. Dengan memperhatikan sejarah mereka, maka kita akan lebih dimampukan untuk membuat refleksi masa kini. Kita patut belajar dari para Missionaris abad ke-16 antara lain Bartolome’ de Las Casas, yang mencoba memulai suatu refleksi teologi atas situasi zamannya.

Perlu juga diberi catatan, bahwa berteologi merupakan upaya untuk membahasakan Allah. Karena merupakan pembahasan, maka berteologi juga dipengaruhi oleh bahasa yang ada. Setiap bahasa mengandung sejumlah dialek. Maka bahasa teologi juga dikenai kaidah ini. Teologi mendapat warnanya dari rakyat, budaya-budaya mereka, kelompok-kelompok ras yang ada, meskipun teologi mau mewartakan universalitas kasih Allah.


Akhir-akhir ini teologi pembebasan Amerika Latin mendapatkan mitra dialog yaitu teologi yang mulai lahir di Dnia Ketiga, pemikiran teologi dalam konteks Amerika Utara, Eropa dan juga teologi feminis, yang masing-masing mempunyai konteks sejarah, sosial, dan budaya sendiri. Meskipun berbeda konteksnya, adalah baik mengadakan perbandingan untuk sampai pada tingkat Gereja Universal. Sejarah teologi lahir dari suatu pengalaman yang sungguh-sungguh manusiawi dan kristiani, maka setiap teologi mempunyai arti universal. Universalitas sejati bukan berarti berbicara dengan bahasa yang sama, melainkan usaha menemukan pengertian sama, meskipun berasal dari konteks yang berbeda. Maka berbagai macam bentuk teologi ada di dalam suatu persekutuan gereja., merupakan ekspresi – meskipun berbeda-beda – dari kebenaran yang dinyatakan oleh Anak Yang Tunggal.


DUNIA KAUM MISKIN

Belajar Teologi Pembebasan - Keberadaan kaum miskin dan perjuangan menghormati martabat mereka semakin meluas tidak hanya di Amerika Latin, tetapi juga di Afrika dan Asia. Termasuk kategori miskin adalah golongan-golongan minoritas dari segi ras di suatu negara, misalnya orang-orang Negro, Hispanik, Indian Amerika, Arab, termasuk juga kaum perempuan. Fakta ini menjadi bahan refleksi teologi pembebasan.

Dunia kaum miskin bersifat kompleks, meliputi banyak dimensi atau aspek. Kemiskinan tidak hanya terbatas pada aspek sosial ekonomi. Begitu kompleksnya masalah kemiskinan sehingga analisis secara simplistis tidaklah dapat diterima. Tidak cukup mendeskripsikan situasi kaum miskin. Ada hal yang mendesak yaitu usaha untuk mengetahui penyebab-penyebabnya. Analisis strukturalnya yang diambil oleh teologi pembebasan, membantu untuk menyadari bahwa penyebab kemiskinan adalah ketidakadilan.

Tetapi, analisis sosial pun harus berkembang agar tidak statis dan kaku. Teori Dependensi, yang dominan dalam analisis sosial dan yang member sumbangan besar bagi teologi pembebasan pada masa awalnya, sekarang tidak lagi sebagai alat yang memadai, sebab tidak cukup memperhatikan dinamika internal setiap masyarakat atau negara. Sekarang ini perlu diperhatikan peranan budaya sebagai penyebab kemiskinan. Ilmu-ilmu sosial yang memberi sumbangan pada teologi pembebasan tidaklah netral, sebab mengandung unsur-unsur ideologis. Maka perlulah menimbang secara kritis segala macam masukan ilmu-ilmu sosial.

Dokumen Konferensi Para Uskup Amerika Latin Medellin menguraikan tiga arti dari kemiskinan. Pertama, kemiskinan dalam arti yang jelek yang tidak dikehendaki oleh Tuhan. Kedua, kemiskinan rohani dalam arti kesiapsediaan untuk melakukan kehendak Tuhan. Ketiga, solidaritas pada kaum miskin yang ditandai dengan protes terhadap sitasi-situasi, dimana orang miskin menderita. Dari konteks ketiga arti tersebut, muncullah ungkapan Preferential Option for The Poor (pilihan mengutamakan kasih pada orang miskin), yang merupakan tema sentral dalam teologi pembebasan dan yang sekarang telah diterima oleh Gereja universal. Orang miskin diprioritaskan untuk dicintai.

Kata ‘’Opsi” juga perlu dijelaskan. Maksud digunakannya kata opsi adalah kemerdekaan dan komitmen dalam mengambil suatu keputusan. Maka salahlah kalau kata opsi diartikan sebagai suatu yang boleh atau tidak boleh dalam menolong orang miskin. Juga jangan salah artikan, bahwa yang mengambil opsi itu orang-orang lain dan bukan orang miskin sendiri, sebab orang miskin berkewajiban untuk memiliki opsi yang sama. Lebih jauh lagi ditegaskan bahwa opsi yang memprioritaskan orang miskin merupakan opsi kepada Allah yang diwartakan Yesus, sebab seluruh Alkitab menunjukkan kasih Allah kepada orang miskin. Demikian bagi orang kristiani, komitmen yang diambil berdasar pada imannya akan Allah.

EVANGELISASI
   
Belajar Teologi Pembebasan -Teologi pembebasan berfungsi mengartikan “evangelisasi” (mewartakan injil) bagi rakyat Amerika Latin. Misi evangelisasi adalah misi pembebasan. Dalam konteks arti evangelisasi inilah preferential option for the poor harus diartikan. Teologi pembebasan membahasakan keselamatan dalam Kristus dengan terminologi pembebasan. Pendekatan ini mengandung arti mendengarkan jeritan, keluh kesah berjuta-juta manusia yang merindukan pembebasan. Kerinduan pembebasan ini juga ditekankan oleh Paus Yohannes Paulus II dalam suratnya kepada para Uskup Brasil. Kerinduan akan pembebasan ini merupakan tanda kehadiran aktif Roh Kuduh  Tuhan.

Pembebasan harus dimengerti secara komprehensif, menyangkut kenyataan integral. Ada tiga dimensi pembebasan. Pertama, pembebasan dari situasi penindasan sosial dan marginalisasi dalam segala bentuknya. Kedua, pembebasan dalam arti transformasi personal yang membawa kepada kebebasan batin. Ketiga, pembebasan dari dosa sebagai akar segala bentuk penindasan dan perbudakan, sebab dosa merusak persahabatan dengan Tuhan dan sesama manusia. Analisis teologi dan bukan analisis sosial atau filsafat membantu untuk menyadari bahwa hanya pembebasan dari dosa yang bisa menjamin orang bebas dari segala sumber ketidakadilan sosial dan segala bentuk penindasan, mendamaikan orang dengan Tuhan dan sesame.

Kompleksitas pengertian tentang pembebasan seperti di atas mencegah kita untuk mereduksikannya pada salah satu aspek saja. Maka pembebasan tidak hanya menyangkut aspek ekonomi, sosial, cultural, tetapi harus mencakup seluruh pribadi manusia dengan seluruh dimensinya, termasuk hubungannya dengan Tuhan. Tuntutan-tuntutan dari suatu strategi atau praktek demi efisiensi jangka pendek, tidak boleh meniadakan kebebasan total di atas, sebagaimana ditekankan Paus Paulus II dalam Evangeli Nuntiandi.


Dalam menjalankan evangelisasi kepada orang miskin, dan ini berarti mengusahakan pembebasan, Gereja berketetapan untuk menjadi miskin. Gereja mulai melepaskan kedekatannya dengan mereka yang kaya dan kuasa dan rela melepaskan hak-hak istimewanya. Inilah sebabnya ssatu arti Gereja orang miskin, yang ditekankan oleh Paus Yohannes XXIII. Bentuk konkret gereja orang miskin adalah lahir dan tumbuhnya komunitas-konutasi basis gerejani. Komunitas-komunitas ini merupakan manifestasi gereja orang miskin di Amerika Latin, dan membuat injil lebih dekat dengan orang miskin dan orang miskin lebih dekat dengan injil. Orang miskun juga menjadi subyek evangelisasi, sebab mereka menantang gereja kepada pertobatan. 

Orang miskin dalam hidupnya telah menghayati nilai-nilai injil seperti solidaritas, kesederhanaan, dan keterbukaan untuk menerima anugerah Tuhan. Kenyataan lain adalah adanya pihak yang melangkah melawan gereja. Maka melayani dan membela orang miskin dihadapkan pada penganiayaan dan kemarttiran. Enam pastor di bunuh di El Salvador dan Uskup Oscar Romero akhirnya juga dibunuh karena ketegasannya dalam membela orang miskin. Kemartiran merupakan tindakan bagi orang miskin, merupakan pemenuhan hidup dan merupakan perjumpaan bebas merdeka dengan Tuhan.




Referensi: Teologi Pembebasa Gustavo Gutierez karya Suryawasita, 2001  

DAFTARKAN EMAILMU UNTUK DAPAT BUKU ATAU ARTIKEL GRATIS

Seorang Manusia Biasa Yang Candu Membaca, Menulis dan Berdiskusi. Berkat Candu Itu Saya Menetapkan Hati Menjadi Blogger. Nice To Meet You Guys..!

0 Response to "Belajar Teologi Pembebasan"

GET NOTIFICATIONS