4 Pilar Belajar versi Badan Pendidikan Dunia (UNESCO)
4 Pilar Belajar versi Badan Pendidikan Dunia (UNESCO) - Seperti yang kita ketahui, saat
ini terjadi perkembangan yang amat cepat dalam berbagai aspek kehidupan, baik
di bidang politik, ekonomi, kebudayaan, pertahanan, komunikasi dan sebagainya
berdampak kepada dunia pendidikan dan pembelajaran. Sehubungan dengan itu,
UNESCO dalam laporannya Learning: The
Treasure Within (1996) menyampaikan adanya sejumlah tantangan controversial
yang harus dihadapi dengan cara penyeimbangan antara tuntutan global dengan local,
universial dengan individual, pertimbangan jangka panjang dan jangka pendek,
tradisional dengan modern, antara spiritual dengan kebutuhan material dan
sebagainya.


Tantangan yang bersifat universal
ini juga harus dihadapi secara universal pula. Dalam dunia pembelajaran, untuk
menghadapi berbagai tantangan itu, UNESCO memberikan resep berupa apa yang
disebut empat pilar belajar, yaitu: belajar untuk mengetahui (learning to know), belajar untuk bekerja
(learning to do), belajar untuk hidup
bersama (learning to live together), dan
belajar untuk menjadi manusia seutuhnya (learning
to be ). Belajar menjadi manusia
seutuhnya adalah sasaran akhir proses pembelajaraan.
4 Pilar Belajar Menurut UNESCO:
1. Belajar Untuk Mengetahui (Learning to Know)
Belajar untuk mengetahui itu berkaitan dengan
perolehan, penguasaan dan pemanfaatan pengetahuan. Belajar untuk mengetahui
oleh UNESCO dipahami dengan cara dan tujuan dari eksistensi manusia. Hal ini
sesuai dengan penegasan Jacques Delors (1966) sebagai ketua penyusun laporan Learning: The Treasure Within, yang
menyatakan adanya dua manfaat pengetahuan, yaitu pengetahuan sebagai cara,
makna/arti (means) dan pengetahuan
sebagai hasil atau tujuan.
Sebagai cara hidup, terkait keniscayaan bahwa manusia memang wajib memahami
dunia sekelilingnya, minimal sesuai dengan pemenuhan kebutuhannya untuk menjadi
makhluk yang memiliki kehormatan dan percaya diri, mengembangan ketrampilan
okupasionalnya, serta berkomunikasi dengan yang lain. Dari segi tujuan, belajar
untuk mengetahui bertujuan untuk memberikan kepuasan karena perolehan
pemahaman, pengetahuan, dan kepuasan melalui penemuan-penemuan secara mandiri.
Belajar untuk mengetahui berimplikasi terhadap
diakomodasikannya konsep belajar tentang bagaimana belajar, dengan mengembangkan
seluruh potensi konsentrasi pembelajar, ketrampilan mengingat dan kecakapan
untuk berpikir. Sesuai fitrahnya sejak bayi, anak kecil harus belajar bagaimana
berkonsentrasi terhadap suatu objek dan orang-orang lain. Proses untuk
memperbaiki keterampilan berkonsentrasi ini dapat bermanifestasi dengan
berbagai cara dan dapat dibantu oleh berbagai kesempatan belajar yang
berbeda-beda, yang muncul di sepanjang kehidupannya.
Pengembangan ketrampilan mengingat adalah suatu wahana
yang unggul untuk menanggulangi aliran yang berlimpah dari informasi instan
yang disebarluaskan oleh banyak media pada saat ini. Berbahaya jika kita
berkesimpulan bahwa arus informasi yang luar biasa banyaknya ini tidak perlu
ditanggulangi dengan peningkatan ketrampilan dalam mengingat. Kecakapan manusia
dalam memorisasi asosiatif yang spesifik ini tidak boleh direduksi semata oleh
hadirnya proses automatisasi, tetapi harus selalu dikembangan secara hati-hati.
Sementara itu, berpikir terkait sesuatu yang
dipelajari anak, mula-mula dari orangtuanya, kemudian dari para gurunya. Proses
berpikir ini harus terkait dengan ketrampilan menguasai penyelesaian masalah
praktis maupun mengembangakan pemikiran abstrak. Oleh sebab itu pembelajaran
sebagai praktek pendidikan harus mampu memandu siswa untuk menguasai secara
sinergis penalaran deduktif sekaligus penalaran induktif yang ada pada
hakikatnya justru suatu proses yang berbeda arah. Ketrampilan berpikir secara
reflektif ini penting untuk melatih anak menyelesaikan problema kehidupan.
Belajar untuk berpikir merupakan pembelajaran sepanjang hayat, seseorang yang
selalu siap untuk selalu berpikir, selama hidupnya tidak akan mengalami
kebosanan karena menghadapi keniscayaan rutinitas.
2. 2. Belajar
Untuk Melakukan/Bekerja (learning to Do)
Konsep belajar untuk melakukan ini terkait dengan
pertanyaan pokok, bagaimana kita mengadaptasikan pendidikan sehingga mampu
membekali siswa untuk mampu menerapkan hasil pembelajarannya di kehidupan
sehari-hari. Dalam hal belajar untuk bekerja, pendidikan diharapkan mampu
menyiapkan siswa berkaitan dua hal. Pertama, berhubungan dengan ekonomi
industry, di mana para pekerja memperoleh upah dari pekerjaannya. Kedua, yaitu
suatu usaha yang kita kenal sebagai wirausaha, para lulusan sekolah menyiapkan
jenis pekerjaannya sendiri dan menguji dirinya sendiri, dalam semangat entrepeneurship.
Suatu hal yang perlu dicatat dan diterapkan dengan
baik dalam kurikulum pembelajaran di sekolah, sejak paruh kedua abad ke-20 yang
lalu telah ada pergeseran besar dalam dunia industry. Jika dulu lebih berfokus
kepada pekerjaan fisik di lingkungan manufaktur, maka zaman sekarang lebih
berfokus pada layanan jasa. Pekerjaan ini semakin dibutuhkan dengan berkembang
pesatnya teknologi informasi dan komunikasi, terutama dengan berkembangnya automatisasi
sehingga kebutuhan pekerjaan ‘tidak tampak’ makin menjamur.
Belajar untuk bekerja adalah belajar atau berlatih
menguasai ketrampilan dan kompetensi kerja. Jadi menurut konsep UNESCO belajar
jenis ini berkaitan dengan pendidikan vokasional. Pada perkembangannya, dunia
usaha/industry menuntut agar segera setelah lulus, para siswa pembelajar siap
memasuki lapangan kerja, sehingga seharusnya ada link and match antara sekolah dengan dunia usaha. Maknanya, sekolah
wajib menyiapkan berbagai keterampilan dasar yang diperlukan untuk siap
bekerja.
Keterampilan dan kompetensi kerja yang harus dikuasai
siswa, sejalan dengan tuntutan perkembangan dunia industri memang semakin
tinggi, tidak sekedar pada tingkat keterampilan kompetensi kerja teknis atau operasional,
tetapi bahkan sampai dengan kompetensi professional. Sehubungan dengan makin
pesatnya perkembangan dunia kewirausahaan, pendidikan dan pembelajaran
dituntut untuk mempu menyiapkan para
lulusan yang siap mengisi sektor informal, itu berarti pembelajaran harus mampu
mengembangkan jiwa inovasi siswa.
3. 3. Belajar untuk hidup bersama (Learning to Live Together)
Belajar untuk hidup bersama, mengisyaratkan
keniscayaan interaksi berbagai kelompok dan golongan dalam kehidupan global
yang dirasakan menyempit akibat kemajuan teknologi komunikasi dan informasi.
Komunikasi antar manusia antara kedua belahan dunia kini sudah dalam hitung
detik. Agar dapat berinteraksi, berkomunikasi, saling berbagi, bekerja sama,
dan hidup bersama, saling menghargai dalam kesetaraan sejak kecil anak-anak
sudah harus dilatih , dibiasakan hidup berdampingan. Anak-anak harus banyak
belajar dari hidup bersama secara damai, apalagi di alam Indonesia yang
multikultur dan multietnik ini sehingga mereka biasa bersosialisasi sejak awal.
Sepanjang sejarah, kehidupan manusia secara konstan
memperoleh ancaman dari berbagai konflik, tetapi resiko menghadapi konflik itu
saat ini semakin tinggi terutama karena dua factor penyebab. Pertama, potensi
luar biasa untuk merusak yang berkembang dari diri manusia sendiri, dan ini
dibuktikan di dalam abad ke-20 yang lalu. Pada abad 20 ini berlangsung dua
perang dunia, Perang Dunia I dan Perang Dunia II yang menghancurkan
kemanusiaan, membunuh jutaan manusia, menyebabkan kesengsaraan dan penderitaan
global. Penyebab kedua, perkembangan media informasi yang luarbiasa canggih
sehingga berita tentang konflik di berbagai belahan bumi ini cepat tersebar
luas, dan hal ini telah mempengaruhi diri manusia, sayangnya justru pengaruh
negatif semacam ini paling mudah ditiru.
Sehubungan dengan hal diatas, muncul sebuah pertanyaan
mendasar. Dapatkah kita berbuat yang lebih baik? Dapatkah kita mendidik diri
sendiri untuk menghindari konflik atau mampukah kita menyelesaikan konflik
secara damai? Dapatkah kita hidup berdampingan secara damai untuk memperoleh
kemaslahatan bersama? Jawabnya tentu dengan melakukan usaha terus-menerus yang
tidak kenal lelah dan tidak kenal putus asa melalui dunia pendidikan.
4. 4. Belajar Untuk Menjadi Manusia Yang Utuh (Learning To Be)
Belajar untuk menjadi manusia yang utuh mengharuskan
tujuan belajar dirancang dan diimplementasikan sedemikian rupa, sehingga
pelajar menjadi manusia yang utuh, paripurna. Manusia yang utuh adalah manusia
yang secara menyeluruh aspek kepribadiannya berkembang secara optimal dan
seimbang, baik aspek ketakwaan terhadap Tuhan, intelektual, emosi, sosial,
fisik, maupun moral. Seimbang dalam kecerdasan intelektual, emosional, sosial
dan kecerdasan spiritualnya.
Untuk mencapaihal diatas diperlukan individu-individu
yang banyak belajar dalam mengembangkan seluruh aspek kepribadiannya. Dalam
kaitan itu mereka harus berusaha banyak meraih keunggulan (being excellence). Keunggulan diperkuat dan ditunjang moral yang
kuat. Moral yang kuat wajib ditunjang keimanan inilah yang diharapkan mampu
memandu pembelajar untuk belajar menghargai orang lain, toleran terhadap
hak-hak orang lain, dan memahami bahwa hidup bersama dengan berbagai jenis ras,
suku, warna kulit, bahasa, tradisi dan budaya merupakan suatu keniscayaan yang
tidak dapat dihindari.
Pembelajar secara ringkasnya harus mampu menemukan
orang lain, sebagai bagian dari dirinya sendiri. Ikatan antarmanusia semacam
ini akan lebih diperkuat jika sejak kecil anak sudah dibiasakan, dilatih,
dihadapkan pada situasi, bahwa manusia di seluruh dunia ini harusnya memang
menuju ke tujuan umum bersama, yaitu tercapainya kondisi dunia yang sejahtera,
aman, adil, makmur dalam kesetaraan dan saling menghormati.
Sumber Referensi:
1. Suyono, Drs. Harianto,2013, Belajar dan Pembelajaran, Bandung: PT Remaja Rosdakarya
2. Balaban, Nancy, 1995, Seeing the Child, Knowing the Person, New York: Teacher College
Press
3. Budiningsih, C. Asri, 2005, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: PT Rineka Cipta
0 Response to "4 Pilar Belajar versi Badan Pendidikan Dunia (UNESCO)"
Post a Comment