Cai Lun (Ts’ai Lun) Sang Penemu Bahan Kertas
![]() |
| Ts’ai Lun Sang Penemu Bahan Kertas |
Cai Lun (Ts’ai Lun) Sang Penemu Bahan Kertas - Siapakah orang yang pertama sekali
menemukan kertas? Barangkali jika pertanyaan ini dilontarkan kepada kita, belum
tentulah dapat kita jawab dengan pasti, atau bahkan sama sekali tidak
terpikirkan mengenai hal ini, meskipun hampir setiap hari kita menggunakan
kertas.
Penemu bahan kertas Ts’ai Lun
besar kemungkinan adalah sebuah nama yang asing di telinga kita. Menimbang
betapa pentingya penemuannya, amatlah mengherankan orang-orang Barat
meremehkannya begitu saja. Tidak sedikit ensiklopedia besar tidak mencantumkan
namanya. Ini sungguh keterlaluan. Ditilik dari sudut arti penting kegunaan
kertas amat langkanya Ts’ai Lun disebut-sebut bisa menimbulkan sangkaan
jangan-jangan Ts’ai Lun sebuah figure tak menentu dan tidak bisa dipercaya ada
atau tidaknya. Tapi penyelidikan seksama membuktikan dengan mutlak jelas bahwa
Ts’ai Lun itu benar-benar ada dan bukan sejenis jin dalam dongeng.
Dia seorang pegawai negeri pada
pengadilan kerajaan yang di tahun 105 Masehi mempersembahkan contoh kertas pada
Kaisar Ho Ti. Catatan Cina tentang penemuan Ts’ai Lun ini (terdapat dalam
penulisan sejarah resmi dinasti Han) sepenuhnya terus terang atau dapat
dipercaya, tanpa sedikitpun ada bau-bau magi atau dongeng. Orang-orang Cina
senantiasa menghubungkan nama Ts’ai Lun dengan penemu kertas dan namanya
tersohor di seluruh Cina.
Tak banyak yang dapat diketahui
perihal kehidupan Ts’ai Lun, kecuali ada menyebut dia itu orang kebirian.
Tercatat pula kaisar teramat girang dengan penemuan Ts’ai Lund an ia membuatnya
naik pangkat, dapat gelar kebangsawanan dan dengan sendirinya jadi cukong. Tapi
belakangan dia terlibat dalam komplotan anti istana yang menyeret ke
kejatuhannya. Catatan-catatan Cina menyebut sesudak dia disepak, Ts’ai Lun
mandi bersih-bersih, mengenakan gaunnya yang indah, lantas meneguk racun.
Penggunaan kertas meluas di
seluruh Cina pada abad Ke-2, dan dalam beberapa abad saja Cina sudah dianggap
sudah mampu mengekspor kertas ke negara-negara Asia.
Lama sekali Cina
merahasiakan cara pembuatan kertas ini. Di tahun 751, apa lacur, beberapa
tenaga ahli pembuatan kertas tertawan oleh orang-orang Arab sehingga dalam
tempo singkat kertas sudah diproduksi di Baghdad dan Sarmarkand. Teknik
pembuatan kertas menyebar ke seluruh dunia Arab dan baru di Abad ke-12
orang-orang Eropa belajar teknik ini. Sesudah itulah pemakaian kertas mulai
berkembang luas dan sesudah Gutenberg menemukan mesin cetak modern, kertas
menggantikan kedudukan kulit kambing sebagai sarana tulis-menulis di Barat.
Kini penggunaan kertas begitu
umumnya sehingga tak seorangpun sanggup membayangkan bagaimana bentuk dunia
tanpa kertas. Di Cina sebelum penemuan Ts’ai Lun umumnya buku dibuat dari
bambu. Tentu saja buku macam itu akan kelewat berat dan kikuk. Memang ada juga
buku yang dibuat dari sutera tetapi harganya amat mahal untuk umum. Sedangkan
di Barat, sebelum ada kertas, buku ditulis di atas kulit kambing atau lembu.
Material ini sebagai pengganti papyrus yang digemari oleh orang-orang Yunani,
Romawi, dan Mesir. Baik kulit maupun papyrus bukan saja termasuk barang langka
tapi juga harganya sulit terjangkau.
Sekarang, entah buku entah barang
tulisan lain dapat diproduksi secara murah dan sekaligus dalam jumlah
besar-besaran. Ini semua berkat adanya kertas. Memang, arti penting kertas
tidaklah begitu menonjol tanpa adanya mesin cetak, tapi sebaliknya pun tak
banyak makna tanpa adanya bahan kertas yang begitu banyak dan begitu murah.
Sesudah orang Barat mulai
menggunakan kertas, mereka mampu duduk berhadapan dengan Cina, bahkan berhasil
menyempitkan jurang pemisah cultural. Tulisan-tulisan Marco Polo menekankan
keyakinan bahwa bahkan di abad ke-13 Masehi Cina berada jauh diatas Eropa dalam
hal kemakmuran. Namun, mengapa selanjutnya Cina berada di belakang Eropa?
Berbagai penjajagan yang cultural yang detail telah dicoba, tapi mungkin
pengamatan teknologi yang sederhana dapat menemukan jawabannya. Di abad ke-15
di Eropa, seorang genius bernama Johan Gutenberg menemukan cara memproduksi
buku sebanyak-banyaknya. Akibat penemuan itu, kultur Eropa maju dengan pesat.
Karena tidak punya orang seperti Gutenberg, Cina tetap bertahan pada sistem
percetakan blok sehingga perkembangan kulturnya merangkak lebih lambat.
Ts’ai Lun berada paling depan
dari penemuan-penemuan lain Karena beberapa alasan. Umumnya penemuan-penemuan
merupakan produk dari jamannya dan bisa juga terjadi biarpun orang yang
betul-betul menemukannya tidak pernah hidup sama sekali. Tapi, dalam keadaan
ini sama sekali tidak berlaku pada masalah kertas. Orang-orang Eropa tidak mulai
memproduksi kertas beribu-ribu tahun sesudah Ts’ai Lun. Mereka baru terbuka
pikiran dan memproduksi kertas sesudah belajar proses pembuatannya dari orang
Arab.
Dalam hubungan diatas, biarpun
orang sudah menyaksikan bagaimana orang Cina memproduksi kertas, bangsa-bangsa
Asia lainnya tidak pernah punya kemampuan memproduksinya. Jadi jelaslah,
penemuan cara memproduksi kertas bukanlah pekerjaan gampang, tak bisa begitu
saja dilaksanakan oleh kebudayaan maju yang serba tanggung, melainkan erat
kaitannya dengan sumbangan pikiran dari perseorangan yang punya kelebihan luar
biasa. Ts’ai Lun adalah model orang macam itu, dan cara membuat kertas yang
dilakukannya pada dasarnya sama dengan apa yang dilakukan kini.


0 Response to "Cai Lun (Ts’ai Lun) Sang Penemu Bahan Kertas"
Post a Comment