Musa Sang Nabi Orang Yahudi, Kristen, dan Islam


Musa Sang Nabi Orang Yahudi
Siapa yang tidak mengenal Nabi Musa? Hampir semua kita pernah mendengar nama tokoh yang satu ini. Barangkali, tidak ada manusia dalam sejarah yang begitu luas dikagumi dan dikenang seperti halnya Nabi Musa, Sang Nabi Orang Yahudi. Di samping itu, selain ketenarannya, juga jumlah pengikutnya selalu memuja dia secara pasti meningkat sepanjang jaman. Diperkirakan, Musa tenar pada abad ke-13 SM, bersamaan sekitar masa kekuasaan Ramses II. Nabi Musa juga dianggap sebagai pimpinan perpindahan besar-besaran bangsa Israel dari Mesir.

Siapa itu Nabi Musa?
Di masa  hidup Musa, seperti yang dijelaskan dalam buku Exodus, ada kelompok orang Yahudi yang menentangnya. Tapi, tak kurang dari lima abad lamanya Musa diagung-agungkan oleh orang-orang Yahudi. Mendekati tahun 400 SM, kemasyuran dan nama baiknya menyebar luas ke seluruh Eropa berbarengan dengan agama Nasrani. Beberapa abad kemudian, Muhammad juga mengakui bahwa Musa adalah nabi yang sesungguhnya.

Dengan berkembangnya agama Islam, Musa pula menjadi tokoh yang dikagumi di seluruh dunia Islam (termasuk Mesir). Kini, sesudah tiga puluh tiga abad terhitung dari masa hidupnya, Musa dihormati oleh orang Yahudi, Kristen, dan Islam sekaligus, dan bahkan juga oleh kaum yang tidak percaya Tuhan (ateis). Berkat kemajuan komunikasi, dia mungkin lebih terkenal dan dikagumi di masa lampau daripada masa sekarang ini.

Di samping ketenarannya, informasi yang bias dipercayai menyangkut kehidupan Musa tidaklah banyak. Bahkan ada spekulasi (meskipun tidak diterima oleh sebagian besar ahli ilmu pengetahuan) bahwa Musa itu sesungguhnya orang Mesir, karena namanya berbau Mesir dan bukan Yahudi. Nama Musa berarti “anak” atau “anak lelaki” dan banyak digunakan sebagai bagian dari banyak firaun.

Kitab Perjanjian Lama berisi cerita-cerita tentang Musa yang hampir tak banyak maknanya karena sudah banyak dijejali dengan serba keajaiban. Kisah-kisah tentang Musa dapat menimbulkan malapetaka, tentang Musa bias merobah pembantunya menjadi ular, merupakan contoh-contoh kejadian yang di luar kezaliman alamiah.

Hal-hal semacam ini membebani orang dengan kemustahilan sehingga melempangkan jalan agar orang yang percaya bagaimana Musa yang sudah berumur delapan puluh tahun saat itu kesanggupannya melakukan eksodus, memimpin bangsa Yahudi melintasi padang pasir dalam jangka waktu tidak kurang dari empat puluh tahun. Sebetulnya kita ingin tahu persis apa sebenarnya yang sudah berhasil diperbuat Musa sebelum kisah-kisahnya terkubur dalam semak-semak dunia dogeng.

Banyak pihak yang berkeinginana melakukan penafsiran yang wajar dari khazanah kisah Injil, misalnya tentang sepuluh wasiat larangan, tentang penyeberangan Laut Merah. Tapi, paling disenangi dari cerita-cerita Perjanjian Lama menyangkut perikehidupan Musa adalah dongeng-dongengnya yang bisa disejajarkan dengan kisah-kisah mitologi. Cerita Musa tentang tanaman merambat ke atas tak kunjung berakhir amatlah mirip dengan cerita Babylonia, Sargon dan Akkad, raja besar yang memerintah sekitar 2360-2305 SM.


Tiga Karya Besar Nabi Musa

Pada umumnya, ada tiga hasil besar yang dihubungkan dengan perbuatan Musa. Pertama, dia dianggap tokoh politik yang memimpin orang Yahudi melakukan perpindahan secara besar-besaran dari Mesir. Dalam hal ini, jelas memang dia layak menerima penghargaan itu. Sangat jarang orang memiliki pengaruh sebesar itu di jamannya, bahkan mungkin sekarang.

Kedua, Musa berhasil sebagai penulis jilid pertama dari lima buku injil (Genesis, Exodus, Leviticus, Numbers dan Deutronomy), yang sering dikaitkan dengan "Lima buku Musa" dan menyusun Torat Yahudi. Buku ini termasuk kode Musa, serangkaian hukum yang menjadi dasar tingkah laku kaum Yahudi dalam Injil, termasuk dalam SEPULUH PERINTAH ALLAH.  

Dari sudut besarnya pengaruh Torat dan umumnya Sepuluh Perintah Allah, para penulis tak syak lagi dapat digolongkan orang besar yang punya pengaruh langgeng. Tapi, umumnya sarjana-sarjana Injil bersepakat bahwa Musa bukanlah satu-satunya penulis buku itu. Buku itu tampaknya ditulis oleh beberapa orang dan sebagian besar isinya tidak jelas ditulis sebelum wafatnya Musa.

Di samping itu, ada juga kemungkinan Musa memainkan beberapa peranan dalam hal penghimpunan adat kebiasaan Yahudi atau bahkan Yahudi atau bahkan menggariskan hukum-hukum Yahudi, tetapi belum ada bukti yang pasti sejauh dan sebesar apa peranan yang dilakukan oleh Musa dalam menyusun atau menggariskan hukum/tradisi orang Yahudi.

Kemudian, banyak juga orang beranggapan bahwa Musa dianggap sebagai penegak monoteisme Yahudi. Rasanya tidak ada  alasan kuat yang bisa menunjang anggapan itu. Satu-satunya sumber informasi kita mengenai ihwal Musa adalah Perjanjian Lama, dan Perjanjian Lama jelas-jelas dan tidak meragukan berkaitan dengan Abraham selaku penegak monoteisme.

Meskipun demikian, memang benar juga monoteisme Yahudi tidak bisa tidak sirna tanpa Musa dan tidak perlu dipermasalahkan lagi Musa memang memegang peranan penting dalam menentukan hal memelihara dan menyebarkan. Dalam hal ini, tentu saja, terletak arti penting peranan Musa yang tersebar sesudah agama Kristen dan Islam, dua agama terbesar di dunia keduanya bersumber pada monoteisme. Gagasan adanya Tuhan Yang Maha Esa, yang dengan sepenuh hati dipercayai Musa, yang akhirnya menyebar ke sebagian besar dunia.

Musa wafat pada tahun 1327 Sebelum Masehi. 

DAFTARKAN EMAILMU UNTUK DAPAT BUKU ATAU ARTIKEL GRATIS

Seorang Manusia Biasa Yang Candu Membaca, Menulis dan Berdiskusi. Berkat Candu Itu Saya Menetapkan Hati Menjadi Blogger. Nice To Meet You Guys..!

0 Response to "Musa Sang Nabi Orang Yahudi, Kristen, dan Islam"

GET NOTIFICATIONS