Aristoteles Sang Filsuf dan Ilmuwan Terbesar



Siapa itu Aristoteles? Bagi orang-orang yang mendalami ilmu filsafat, politik, sosial dan logika pasti mengenal tokoh yang satu ini. Hampir tidak bisa kita bantah, Aristoteles adalah seorang filsuf dan ilmuwan terbesar dalam dunia masa lampau. Dia memelopori penyelidikan ihwal logika, memperkaya hampir setiap cabang filsafat dan memberi sumbangsih tak terperikan besarnya terhadap ilmu pengetahuan.
Aristoteles Sang Filsuf dan Ilmuwan Terbesar
Aristoteles / Sumber foto: Internet

Banyak ide-ide Aristoteles yang kini sudah ketinggalan jaman. Tapi yang paling penting dari apa yang pernah dilakukan oleh Aristoteles adalah pendekatan rasional, yang senantiasa melandasi karyanya. Tercermin dalam tulisan-tulisan Aristoteles sikapnya bahwa tiap segi kehidupan manusia atau masyarakat selalu terbuka untuk obyek pemikiran dan analisa. 



Pendapat Aristoteles, alam semesta tidaklah dikendalikan oleh serba kebetulan oleh magi, oleh keinginan tak terjajaki kehendak dewa yang terduga, melainkan tingkah laku alam semesta itu tunduk pada hukum-hukum rasional. Kepercayaan ini menurut Aristoteles diperlukan bagi manusia untuk mempertanyakan tiap aspek dunia alamiah secara sistematis dan kita mesti memanfaatkan baik pengamatan empiris dan alasan-alasan yang logis sebelum mengambil keputusan. Rangkaian sikap-sikap ini, yang bertolak belakang dengan tradisi, takhayul dan mistik telah mempengaruhi secara mendalam peradapan Eropa.


Aristoteles dilahirkan di kota Stagira, Macedonia, 384 SM. Ayahnya seorang ahli fisika kenamaan. Pada umur tujuh belas tahun, Aristoteles pergi ke Athena belajar di Akademi Plato. Dia menetap di sana selama dua puluh tahun hingga tak lama Plato meninggal dunia. Dari ayahnya, Aristoteles  mungkin memperoleh dukungan dan dorongan minat di bidang biologi dan pengetahuan praktis. Di bawah asuhan Plato, dia menambahkan minat dalam hal spekulasi filosofis.


Pada tahun 342 SM, Aristoteles pulang kembali ke Macedonia, menjadi seorang guru seorang anak raja umur tiga belas tahun yang kemudian dalam sejarah terkenal Alexander Yang Agung. Aristoteles mendidik si Alexander naik tahta kerajaan, Aristoteles kembali ke Athena dan disitu dibukanya sekolahnya sendiri, Lyceum. 


Dia berada di Athena dua belas tahun, satu masa yang berbetulan dengan karir penaklukan militer Alexander. Alexander tidak minta nasehat bekas gurunya, tapi ia berbaik hati menyediakan dana buat Aristoteles untuk melakukan penyelidikan-penyelidikan. Mungkin ini merupakan contoh pertama dalam sejarah seorang ilmuwan menerima dana dalam jumlah besar dari pemerintah untuk maksud penyelidikan dan sekaligus merupakan yang terakhir dalam abad-abad berikutnya.


Walau begitu, hubungan Aristoteles menolak secara prinsipil cara kediktatoran Alexander dan ketika si penakluk Alexander menghukum mati sepupu Aristoteles dengan tuduhan pengkhianat. Selain itu, Alexander punya niat juga untuk membunuh Aristoteles. Di satu sisi, Aristoteles kelewat demokratis di mata Alexander. Di sisi lain, dia juga punya hubungan erat dengan Alexander dan dipercaya oleh warga Athena.


Di saat Alexander meninggal tahun 323 SM, golongan Anti-Macedonia memgang tampuk kekuasaan di Athena dan Aristoteles pun didakwa kurang ajar kepada dewa. Aristoteles teringat akan nasib yang menimpa Sokrates 76 tahun sebelumnya, lari meninggalkan kota sambil berkata dia tidak akan dberi kesempatan kedua kali kepada orang-orang Athena berbuat dosa terhadap para filsuf. Akhirnya, Aristoteles meninggal di pembuangan beberapa bulan kemudian di tahun 322 SM pada umur empat puluh dua tahun. 


Hasil murni karya Aristoteles jumlah yang mencengangkan. Empat puluh tujuh karyanya masih tetap bertahan. Daftar kuno mencatat tidak kurang dari seratus tujuh puluh buku hasil ciptaannya. Bahkan bukan sekedar banyaknya judul buku yang mengagumkan, melainkan luas daya jangkauan peradaban yang menjadi bahan renungannya juga tidak kurang hebatnya. Kerja ilmiahnya betul-betul merupakan ensiklopedia ilmu untuk zamannya. Aristoteles menulis tentang astronomi, zoologi, embryologi, geografi, geologi, fisika, anatomi, psikologi, dan hampir tiap karyanya terkenal di mas Yunani purba.


Untuk menjadi seorang ahli paling jempolan dalam tiap cabang ilmu tentu kemustahilan yang ajaib dan tidak ada duplikat seseorang dimasa sesudahnya. Tapi apa yang sudah dicapai Aristoteles malah lebih dari itu. Aristoteles adalah seorang filsuf yang orisinal, dialah penyumbang utama dalam tiap bidang penting filsafah spekulatif, dia menulis tentang etika, metafisika, psikologi, ekonomi, teologi, politik, retorika, keindahan, pendidikan, puisi, adat-istiadat orang terbelakang dan konstitusi Athena. Salah satu proyek penyelidikannya adalah koleksi pelbagai negeri yang dipergunakannya untuk studi bandingan. 


Mungkin sekali, yang paling penting dari sekian banyak hasil karyanya adalah penyelidikannya tentang teori logika, dan Aristoteles dipandang selaku pendiri cabang filosofi yang penting ini. Hal ini sebetulnya berkat sifat logis dari cara berpikir Aristoteles yang memungkinkannya mampu mempersembahkan begitu banyak bidang ilmu. 


Aristoteles memiliki banyak bakat dalam mengatur cara berpikir, merumuskan kaidah dan jenis-jenisnya yang kemudian jadi dasar berpikir di banyak bidang ilmu. Aristoteles tidak pernah kejeblos kedalam rawa-rawa mistik ataupun ekstrim. Aristoteles senantiasa bersiteguh mengutarakan pendapat-pendapat praktis. Dan tentu saja, yang namanya manusia selalu memiliki kelemahan/kesalahan. Tapi, sungguh menakjubkan sekali betapa sedikitnya kesalahan yang dia bikin dalam ensiklopedi yang begitu luas.


Pengaruh Aristoteles terhadap cara berpikir Barat di belakang hari sungguh mendalam. Di zaman dahulu dan zaman pertengahan, hasil karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Latin, Arab, Itali, Perancis, Ibrani, Jerman dan Inggris. Penulis-penulis Yunani yang muncul kemudian, begitu pula filsuf-filsuf Byzantium mempelajari karyanya dan menaruh kekaguman yang sangat. Perlu kita ketahui, buah pikirannya banyak membawa pengaruh pada filsuf Islam dan beradab-adab lamanya tulisan-tulisannya yang mendominasi cara berpikir Barat. 



Ibnu Rusyd (Avveroes), mungkin filsuf Arab yang paling terkemuka, mencoba merumuskan perpaduan antara teologi Islam dan rasionalismenya Aristoteles. Maimomides, pemikir terkemuka Yahudi abad tengah berhasil mencapai sintesa dengan Yudaisme. Tapi, hasil kerja paling gemilang dari perbuatan macam itu adalah Summa Theologia-nya cendekiawan Katolik Santo Thomas Aquinas. Di luar daftar ini, masih sangat banyak kaum cerdik pandai abad tengah yang terpengaruh demikian dalamnya oleh pikiran Aristoteles.


Kekaguman orang pada Aristoteles menjadi begitu melonjak pada akhir abad tengah ketika keadaan sudah mengarah pada penyembahan berhala. Dalam keadaan itu, tulisan-tulisan Aristoteles lebih merupakan semacam bungkus intelek yang jitu tempat mempertanyakan masalah lebih lanjut daripada semacam lampu penerang jalan. Aristoteles yang serius meneliti dan memikirkan perihal dirinya tak salah lagi kurang sepakat dengan sanjungan membabi buta dari generasi berikutnya terhadap tulisan-tulisannya. 


Beberapa ide Aristoteles kelihatan reaksioner diukur dengan kacamata sekarang. Misalnya, dia mendukung perbudakan karena dianggapnya sejalan dengan garis hukum alam. Aristoteles juga percaya kerendahan harkat dan martabat wanita ketimbang laki-laki. Kedua ide ini tentu saja mencerminkan pandangan yang berlaku pada zaman itu. 


Tapi, tidak kurang pula banyaknya buah pemikiran Aristoteles yang mencengangkan modernya, misalnya kalimatnya, “Kemiskinan adalah bapaknya revolusi dan kejahatan” dan kalimat “Barangsiapa yang sudah merenungi dalam-dalam seni memerintah manusia pasti yakin bahwa nasib sesuatu empirium tergantung pendidikan anak-anak mudanya”. Tentu saja waktu itu sekolah belum ada seperti yang kita kenal sekarang ini. 


Di abad-abad belakangan, pengaruh dan reputasi Aristoteles telah merosot bukan kepalang. Hal ini disebabkan banyak filsuf-filsuf baru yang telah memperbaharui/menyempurnakan pendapat dan pemikiran Aristoteles. Namun kita ketahui, pengaruh Aristoteles dalam ilmu pengetahuan sudah begitu menyerap dan berlangsung lama dalam kehidupan manusia. 

Demikianlah artikel tentang Aristoteles Sang Filsuf dan Ilmuwan Terbesar. Semoga menginspirasi.

DAFTARKAN EMAILMU UNTUK DAPAT BUKU ATAU ARTIKEL GRATIS

Seorang Manusia Biasa Yang Candu Membaca, Menulis dan Berdiskusi. Berkat Candu Itu Saya Menetapkan Hati Menjadi Blogger. Nice To Meet You Guys..!

0 Response to "Aristoteles Sang Filsuf dan Ilmuwan Terbesar"

GET NOTIFICATIONS