Demokrasi dan Pendidikan


Demokrasi dan Pendidikan -  Kita sedang berada di ambang suatu era baru dalam kehidupan nasional kita. Pembaharuan pendidikan yang sudah lama diperlukan untuk mana pada akhirnya negara ini siap akan merupakan suatu titik balik ke arah era baru itu.


Demokrasi dan Pendidikan
Demokrasi dan Pendidikan / Sumber foto: Internet
Demokrasi untuk pertama kalinya dalam  abad ini telah  mendapat penghargaan selayak-layaknya. Sampai abad ini, kita telah berusaha untuk memberikan pendidikan selama dua belas tahun penyekolahan bagi semua anak bangsa. Tidak sampai abad ini telah kita anugerahkan kedudukan tinggi kewargaan negara yang diberikan hak untuk memberikan suara kepada semua kita, tanpa menghiraukan jenis kelamin, ras atau asal usul etnik. 

Keduanya - hak universal dan penyekolahan universal – terikat satu sama lainnya yang saling tak dapat melepaskan diri. Yang satu tanpa lainnya adalah suatu angan-angan yang membahayakan. Hak pilih tanpa penyekolahan adalah mobokrasi, bukan demokrasi – bukan aturan dari hukum, bukan pemerintahan konstitusional oleh rakyat maupun untuk mereka.

Pendidik besar Amerika Serikat, John Dewey, sudah mengakui hal ini dini dalam abad ini. Dalam buku Democracy and Education , yang ditulis dalam tahun 1916, ia pertama kalinya mengikat kedua kata itu bersama dan membiarkannya masing-masing menyorotkan cahayanya kepada yang lain. Suatu pesan yang revolusioner dari buku itu adalah bahwa suatu masyarakat yang demokratis harus menyediakan kesempatan yang pendidikan yang sama tidak hanya dengan memberikan kuantitas pendidikan yang sama kepada semua anak didik, tetapi juga memastikan untuk memberikan kualitas yang sama.

Ideal yang ditampilkan oleh John Dewey kepada kita adalah suatu tantangan yang telah gagal kita hadapi. Tantangan itu adalah suatu tantangan yang begitu sulitnya sehingga dapat dimengerti, barangkali dapat dimaafkan bahwa selama ini kita semua gagal. Tetapi, kita tidak dapat terus gagal tanpa konsekuensi-konsekuensi yang mendatangkan malapetaka bagi kita semuanya. Demi bekerjanya lembaga-lembaga politik kita dengan selayaknya,demi efiesiensi dari industri-industri dan bisnis kita, demi penyelamatan ekonomi kita, bagi vitalitas kebudayaan kita dan demi kebaikan pokok dari warga negara-warga negara kita sebagi individu ,dan terutama warga negara-warga negara kita di masa datang, anak-anak kita harus berhasil .

Kita semua adalah penderita dari kegagalan kita yang berlangsung terus untuk memenuhi kewajiban-kewajiban pendidikan dari suatu demokrasi. Kita semua adalah korban-korban dari suatu sistem sekolah yang hanya berlangsung setengah jalan untuk merealisasikan janji dari demokrasi.

Pada abad ini, kurang dari 10 persen dari mereka usia yang memenuhi syarat bagi sekolah menengah memasuki syarat bagi sekolah menengah memasuki sekolah-sekolah demikian. Dewasa ini, hampir 100 persen dari mereka memasukinya, tetapi tidak semuanya menyelesaikan penyekolahan menengah demikian; banyak yang putus sekolah karena banyak alasan, beberapa antaranya dapat dimengerti.

Kita telah memerlukan hampir delapan puluh tahun untuk berlangsung setengah jalan ke arah tujuan yang harus dicapai oleh maryarakat kita jika masyarakat itu akan merupakan suatu demokrasi sejati. Tanda sasaran setengah jalan itu telah dicapai ketika kita akhirnya berhasil memberikan dua belas tahun penyekolahan dasar negeri bagi semua anak kita. Pada titik itu, kita telah lebih dekat pada tujuan yang telah ditampilkan oleh Horace Mann bagi kita lebih dari satu abad yang lalu ketika kita berkata “Pendidikan adalah pintu gerbang menuju kepada persamaan”.

Akan tetapi janji demokratis mengenai persamaan pendidikan yang sama, yang setengah dipenuhi, adalah lebih buruk daripada janji yang tidak dipenuhi. Janji yang setengah dipenuhi itu adalah cita-cita yang dikhianati. Sebenarnya persamaan kesempatan pendidikan itu tidak diberikan jika artinya tidak lebih daripada membawa semua anak ke dalam sekolah-sekolah negeri untuk jumlah jam, hari dan tahun yang sama. Jika sekali mereka dibagi-bagi ke dalam yang domba dan yang kambing, ke dalam mereka yang diperuntukkan bagi kepemimpinan ekonomis dan politik serta bagi suatu kualitas kehidupan terhadap mana semuanya seharusnya mempunyai akses, maka maksud demokratis telah digangsir oleh suatu sistem penyekolahan negeri yang tidak memadai.

Sistem itu gagal karen hanya kuantitas yang sama dari penyekolahan negeri, bukan kualitas yang sama. Kegagalan ini adalah pelanggaran yang sepenuhnya dari prinsip-prinsip demokratis kita.

Kemajuan terhadap pemenuhan demokrasi melalui sistem pendidikan kita harus dan dapat dipercepat. Tidak perlu satu abad lagi untuk mencapai kualitas yang seragam dalam sekolah-sekolah kita secara keseluruhan.

Ada tanda-tanda dari segala segi yang mengatakan kepada kita bahwa rakyat menginginkan gerakan maju itu sekarang. Waktunya telah tiba. Orang tua-orang tua,guru-guru, pemimpin-pemimpin dalam pemerintahan, serikat buruh, oganisasi-organisasi lain—para remaja sendiri telah mengucapkan keluhan-keluhan bernafsu mengenai kualitas yang menurun dari penyekolahan negeri.

Tidak ada alasan yang dapat diterima mengapa mencoba memajukan persamaan harus membawa pengurangan atau kehilangan kualitas. Dua abad setelah Dewey, seorang pendidik Amerika besar lainnya, Robert Maynard Hutchin, yang sama besar komitmennya kepada demokrasi seperti Dewey sebelum dia, menyatakan prinsip fundamental yang harus kita ikuti sekarang dalam upaya kita mencapai suatu persamaan yang seesungguhnya dari kondisi pendidikan. “Pendidikan yang terbaik dari yang terbaik” katanya “ adalah pendidikan yang terbaik bagi semua”.  

Bentuk dari pendidikan yang terbaik bagi yang terbaik bukannya kita tidak ketahui. Tetapi kita telah lamban dalam belajar mengenai bagaimana caranya menyediakannya. Di samping itu, tidak pula kita selalu jujur dalam komitmen kita kepada demokrasi dan janjinya akan persamaan. Sebagian dari populasi kita dan ini sebagian yang terlalu besar telah mempunyai pendapat bahwa banyak anak-anak bangsa yang tidak dapat dididik sepenuhnya. Dapat dilatih untuk satu pekerjaan,mungkin, tetapi tidak dapat dididik untuk kewajiban-kewajiban kewarganegaraan yang mengatur diri sendiri serta untuk menikmati hal-hal yang berkenaan dengan pikiran dan jiwa yang essensial bagi suatu kehidupan manusiawi yang baik.

Kita harus mengakhiri kemunafikan itu dalam kehidupan nasional kita. Kita tidak dapat mengatakan dari satu sisi mulut kita bahwa kita pro demokrasi dan semua lembaganya yang bebas, termasuk, terutama, kebebasan politik dan sipil bagi semuanya; dan dari sisi mulut yang satunya lagi, mengatakan bahwa hanya beberapa dari anak-anak bangsa – lebih sedikit dari setengahnya – yang dapat dididik untuk kewarganegaraan yang penuh dan suatu kehidupan manusia yang penuh.

Dengan pengecualian bebarapa orang yang menderita gangguan otak yang tidak dapat disembuhkan ,setiap anak dapat dididik sampai pada kapasitasnya. Dapat dididik – tidak hanya dapat dilatih untuk pekerjaan-pekerjaan! Sebagaimana John Dewey mengatakan hampir satu abad yang lalu, latihan vokasional, latihan untuk pekerjaan-pekerjaan tertentu, bukanlah pendidikan bagi pria dan wanita yang bebas.

Benar, anak-anak dapat dididik menurut sesuai taraf, tetapi variasi dalam taraf itu haruslah dari jenis dan kualitas yang sama dari pendidikan. Jika “pendidikan yang terbaik adalah pendidikan yang terbaik bagi semuanya.” Maka kegagalan untuk melaksanakan prinsip itu adalah kegagalan pihak masyarakat -  suatu kegagalan dari orang tua-orang tua, dari guru-guru, dari administrator-administrator – bukan kegagalan dari pihak anak-anak.

Tidak ada anak yang tidak dapat diajar. Yang ada hanyalah sekolah-sekolah dan guru-guru dan orang tua- orang tua yang gagal mengajar mereka.

DAFTARKAN EMAILMU UNTUK DAPAT BUKU ATAU ARTIKEL GRATIS

Seorang Manusia Biasa Yang Candu Membaca, Menulis dan Berdiskusi. Berkat Candu Itu Saya Menetapkan Hati Menjadi Blogger. Nice To Meet You Guys..!

0 Response to "Demokrasi dan Pendidikan "

GET NOTIFICATIONS